17 Orang Tewas dalam Bentrokan Kelompok Bersenjata di Sweida Suriah | 31left

TRIBUNNEWS.COM – Sedikitnya 17 orang tewas dan puluhan lainnya cedera di Provinsi Sweida, Suriah selatan akibat bentrokan kelompok bersenjata.

Bentrokan terjadi antara penduduk bersenjata dan geng yang bersekutu dengan badan keamanan pemerintah, kata aktivis dan media lokal.

Sepuluh loyalis pemerintah dari faksi “Falhout” dan tujuh pejuang lokal tewas dalam pertempuran pada Selasa (26/7/2022) dan Rabu (27/7/2022) di dua desa di provinsi mayoritas Druze.

Hal tersebut dilaporkan oleh Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia yang berbasis di Inggris.

Bentrokan di Sweida meningkatkan jumlah korban bentrokan Suriah dari 10 sehari sebelumnya.

Dikutip dari Al Jazeera, pemantau mengatakan bahwa lebih dari 40 orang terluka, termasuk warga sipil.

Baca juga: Korban Tewas akibat Bentrokan Antarsuku di Sudan Jadi 65 Orang, 150 Lainnya Terluka

Provinsi ini sebagian besar tetap terlindung dari konflik berdarah yang telah menghancurkan seluruh negara itu sejak 2011.

Tetapi demonstrasi sporadis telah terjadi karena kondisi ekonomi yang memburuk.

Ketegangan meningkat sejak Senin, setelah penculikan dua orang yang dekat dengan kelompok bersenjata setempat.

Pasukan keamanan Kurdi dikerahkan di kota Hasakeh di utara Suriah pada 22 Januari 2022, di tengah pertempuran yang sedang berlangsung untuk hari ketiga dengan kelompok Negara Islam. - Pertempuran berkecamuk untuk hari ketiga antara kelompok Negara Islam dan pasukan Kurdi di Suriah setelah ISIS menyerang sebuah penjara yang menampung para jihadis, dengan kekerasan yang menewaskan hampir 90 orang, kata seorang pemantau. (Photo by AFP)
Pasukan keamanan Kurdi dikerahkan di kota Hasakeh di utara Suriah pada 22 Januari 2022, di tengah pertempuran yang sedang berlangsung untuk hari ketiga dengan kelompok Negara Islam.(Photo by AFP) (AFP/-)

Warga juga semakin frustrasi pada pejuang yang didukung pemerintah yang melakukan penahanan sewenang-wenang, penghalang jalan acak dan penculikan untuk tebusan, kata Rayan Maarouf, seorang aktivis dan kepala outlet media lokal Suwayda 24.

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published.