Dampak Pandemi, Anak dan Remaja Cenderung Jadi Pendiam Saat Sekolah Tatap Muka | 31left

Laporan Wartawan Tribunnews, Larasati Dyah Utami

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Anak dan remaja cenderung menjadi pendiam saat sekolah tatap muka, setelah selama 2 tahun lamanya melaksanakan pembelajaran jarak jauh (PJJ).

Ranti dan Annisa, dari Children and Youth Advisory Network (CYAN), Save the Children Indonesia mengaku merasakan dampak langsung dari pembelajaran jarak jauh.

Remaja yang masing-masing berusia 17 dan 19 tahun itu juga menyatakan pentingnya orang dewasa memahami perasaan anak dan pemuda saat krisis.

Menurut Ranti (16), saat sekolah kembali melakukan pembelajaran tatap muka, ia seperti kembali menjadi anak baru, karena mulanya perkenalan dilakukan secara virtual.

Banyak siswa juga yang takut berinteraksi dengan teman maupun guru, karena takut salah bicara.

“Mulanya pandemi yang menjadi konsen, belum tentang krisis iklim. Tugas sekolah menjadi 2 kali lipat karena online. Dampaknya terjadi pada anak (saat sekolah tatap muka), menjadi cenderung takut untuk ngobrol dengan teman maupun guru,” kata Ranti di webinar satgascovid19_komlik, Rabu (25/5/2022).

Menurut Ranti, remaja dan anak harus ‘aware’ dengan haknya dan berani bersuara tentang pemenuhan haknya.

Ranti merasa haknya sebagai anak tidak terpenuhi selama 2 tahun pandemi Covid-19.

Baca juga: Epidemiolog Unair: Penanganan Covid-19 Indonesia Kini Berbasis Data Bukan Lagi Asumsi

Contoh hak mendasar seperti bermain.

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published.