Debat Caketum BPP HIPMI, Bagas Adhadirgha Beri Jawaban Lugas | 31left

DEBAT sesi ketiga kandidat calon Ketua Umum (Caketum) Badan Pengurus Pusat (BPP) Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) 2022-2025 digelar di Hotel Kempinski, Jakarta.

Debat ketiga menjadi penutup seluruh rangkaian debat yang telah dilaksanakan dalam rentang waktu 1 bulan ini sebelum menuju Musyawarah Nasional (Munas) BPP HIPMI yang akan dilaksanakan di Solo, pada Senin (21/11).

Dengan dihadiri empat panelis yang dikenal tokoh nasional dan civitas akademika terkemuka Menteri Investasi dan Kepala BKPM Bahlil Lahadalia, Ketua Umum Kadin Arsjad Rasyid Prabu Mangkuningrat, dan Pendiri HIPMI Abdul Latief.

Selain itu, hadir pula Guru Besar Jurusan Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Brawijaya Prof.Dr. Ahmad Erani Yustika yang menjadikan debat sesi terakhir sebagai ajang uji kapasitas Caketum BPP HIPMI yang sangat berkualitas.

Setelah menyampaikan sekilas mengenai visi misi Caketum BPP HIPMI, Akbar Himawan Buchari mengutamakan optimalisasi penguatan basis kader untuk bisa bersaing di dunia global maupun nasional.

 Selanjutnya, Bagas Adhadirgha mengedepankan misi utamanya menjadikan Hipmi sebagai pusat inkubator pengusaha muda nasional.

Kemudian, Anggawira yang mengutamakan akses permodalan, menggerakan ekonomi pengusaha muda berbasis pedesaan dan fokus pada kaderisasi dan pengembangan sumber daya manusia. Sesi makin dinamis ketika memasuki pertanyaan dari para panelis.

Baca juga: Menjelang G-20 di Bali, Hipmi Luncurkan Gerakan Nol Karbon

Akbar Himawan Buchori menjawab,“Kami ingin meningkatkan kualitas kader Hipmi. Kemandirian energi dan swasembada pangan.”

“HIPMI harus berperan aktif untuk melahirkan seluruh pengusaha-pengusaha yang bisa mengisi peluang-peluang tersebut. Dengan kekuatan kader dan senior yg di miliki HIPMI dapat menjawab tantangan-tantangan yang ada,” jelasnya.

Dari pertanyaan Prof. Dr. Ahmad Erani Yustika bagaimana Akbar jika terpilih akan membawa gerbong HIPMI dalam gerakan mengenai situasi dunia akhir ini dimana para perumus negara mencoba untuk mempertemukan kepentingan antara pembangunan ekonomi dan ekologi.

“Sebab keduanya adalah hal pokok bagi keberlanjutan pembangunan baik di level negara maupun global. Dan program apa saja dan targetnya apa saja,” jelasnya.

Tiba pada jawaban Bagas Adhadirgha yang sangat singkat namun tepat sasaran. Ia menegaskan,“HIPMI akan fokus kepada negara yang lebih tahan krisis. Kita memiliki beberapa komoditas yang sangat kuat.”

“Kita bisa berfokus kepada negara-negara Asia, Eropa Timur dan Timur Tengah di mana pusat utamanya adalah pada bidang energi. HIPMI melalui bidang Internasional sudah dan akan rutin mengikutsertakan produk-produk UMKM kita pada eksibisi-eksibisi Internasional,” jelasnya.

“Itu akan kita galakan dan terus adakan agar UMKM yang berorientasi ekspor mampu tetap melanjutkan ekspornya kepada negara-negara yang tahan krisis tersebut,” paparnya.

Saat gilirannya, Ketua Umum Kadin Arsjad Rasyid memberikan pertanyaan. “Saat ini perekonomian Indonesia kembali di hadapkan oleh resiko gejolak perekonomian global yang berimbas pada perlambatan ekonomi dunia,” katanya.

Meskipun resesi ekonomi global diprediksi tidak akan berdampak signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2023 di sisi lain banyak industri yang terdampak resesi global.

Permintaan dari luar negeri berkurang dan ekspor menurun. Banyak perusahaan mengalami kerugian dan berisiko melakukan PHK.

“Strategi apa yang akan HIPMI lakukan  untuk mendukung industri kecil  dan menengah terutama yang berorientasi ekspor untuk bertahan dan berkembang di bawah tekanan ekonomi global?” kata Arsjad.

Tiba pada sesi Menteri Bahlil Lahadalia memberikan pertanyaan bagi kepada tiga caketum “Ekonomi global tidak sedang dalam kondisi baik-baik saja,” katanya.

“Hipmi harus memposisikan diri dalam rangka memperjuangkan stabilitas ekonomi dan terwujudnya penambahan dunia usaha dan naik kelas bagi kader HIPMI,” ujar Bahlil.

“Jika jadi KetumHIPMI, ketika terjadi gejolak apakah proses demokrasi yang di dahulukan atau proses ekonomi yang di dahulukan?”

Anggawira menjawab,“Sudah menjadi tanggung jawab kita semua untuk melakukan transisi demokrasi yang ada, proses pembangunan bisa berjalan lancar tentunya ada stabilitas ekonomi dan politik itu yang paling penting.

Tanpa stabilitas politik yang baik maka tidak mungkin perubahan dan perbaikan ekonomi bisa bertahan dengan baik.

Lalu Bagas Adhadirgha menjawab,“Saya selalu berpendapat bahwasannya tidak ada kestabilan politik tanpa adanya kestabilitan ekonomi.”

 “Indonesia sebagai salah satu lumbung energi dan pangan internasional, harus menjaga kestabilan ekonominya sehingga mampu menjaga kestabilan politik ke depan,” katanya.

“Konsensus bersama antara semua stake holder harus segera di lakukan karena kita akan menghadapi resesi tahun depan. Apapun hasil konsensusnya saya rasa akan menjadi keputusan terbaik yang menjadi pemahaman bahwasannya Indonesia akan bersatu apabila kita kuat dalam menghadapi resesi,”.

Akbar Himawan Buchari menjawab “HIPMI sebagai mitra strategis pemerintah bisa dapat berkontribusi dalam memberikan masukan dengan keadaan ekonomi global yang ada dengan keadaan ekonomi nasional yang ada.”

“Posisi HIPMI di sini jelas mementingkan stabilitas ekonomi daripada stabilitas politik karena akan sia-sia pekerjaan pemerintah yang sudah kita bangun. Maka HIPMI jelas akan mementingkan stabilitas ekonomi di banding stabilitas politik dan jadi masukan kita ke pemerintah.

Tak kalah bobotnya Abdul Latief memberikan pertanyaan “HIPMI adalah organisasi kader. Apa konsep HIPMI masuk desa dan bagaimana teknologi bisa masuk desa?”

Akbar Himawan Buchari menjawab,“Kami mempunyai program untuk memperkuat sistem IT berdasarkan big data yang di miliki oleh Hipmi, kami akan mengoptimalisasi HIPMI Net yang sekarang sudah di gagas oleh HIPMI untuk bisa mendata seluruh kader yang tersebar di 34 propinsi 560 kabupaten dan kota.

“Ini kekuatan besar untuk bisa menginventarisir seluruh usaha yang ada sampai di pedesaan. Dengan ini di harapkan adanya matching bisnis sesuai kebutuhan daerahnya masing-masing,” ujarnya.

Bagas Adhadirgha menjawab,“Pembangunan di Indonesia sudah berubah dari java sentris menjadi Indonesia sentris. Di mana 50% lebih investasi itu terjadi di luar Jawa.”

“Hal ini kami adopsi di HIPMI bahwasannya pembangunan sumber daya manusia pengusaha-pengusaha muda tidak melulu bisa di lakukan di kota tapi bisa di mulai dari desa. Itu sudah di contohkan oleh pemerintah,” ucap Bagas.

“Sehingga kami memiliki punya program Hipmi masuk desa. Di mana sebagian besar kawan-kawan yang berusia produktif kami bekali dengan program mentoring yang merupakan bagian dari inkubator HIPMI sebagai pusat inkubator pengusaha muda di Indonesia,” katanya.

“Dan ke depan jika saya terpilih jadi Ketum HIPMI saya akan galakan Hipmi masuk desa menjadi program utama Hipmi ke depan,” tambahnya.

Anggawira menjawab “Salah satu program prioritas saya ke depan adalah satu desa satu pengusaha. Dengan membangun dari desa tentunya Hipmi punya puran untuk mengaktifkam subyek-subyek pembangunan.”

” Ada dana desa yang sudah di kucurkan. Tantangannya adalah bagaimana dana tersebut tidak hanya lari pada sektor konsumtif namun bagaimana dana tersebut bisa mengagresasi pada sektor profuktif. Di situlah peran HIPMI untuk mendorong lahirnya pengusaha di Indonesia,” paparnya. (RO/OL-09)


admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *