Di Forum AMM, Menlu Retno: Antisipasi Ancaman Kesehatan Pascacovid-19 | 31left

PERTEMUAN Menteri Luar Negeri (Menlu) Perhimpunan Negara Asia Tenggara (AMM) yang diselenggarakan di Phnom Penh, Kamboja, menekankan sejumlah isu. Salah satunya ASEAN harus siap menghadapi ancaman kesehatan usai pandemi covid-19.

“Pertama, di bidang kesehatan. Kita melihat bahwa tantangan kesehatan tetap akan ada ke depan. Dan oleh karena itu, sangat penting artinya bagi ASEAN untuk memastikan kesiapan ASEAN untuk mengatasi tantangan kesehatan, baik saat ini maupun masa mendatang,” ujar Menlu Retno Marsudi dalam keterangannya, Kamis (4/8).

Menurut Retno, kesepakatan itu berasal dari pertemuan AMM pada Rabu (3/8). Agenda utamanya membahas kerja sama dalam konteks ASEAN Community Building.

Retno mengatakan tantangan kesehatan akan dihadapi dengan mempercepat operasionalisasi dan menjamin ketersediaan dana untuk ASEAN Centre for Public Health Emergency and Emerging Diseases (ACPHEED), yang memiliki pilar pencegahan, deteksi dan respons.

“ACPHEED memiliki centers di tiga neara, yaitu Indonesia, Thailand dan Vietnam. Saat ini sedang dibahas modalitas pembentukan ACPHEED di ketiga negara,” jelasnya.

Hal lalin, kata dia, kerja sama di bidang ketahanan pangan. “Jadi mekanisme kawasan untuk memperkuat ketahanan pangan sangat penting untuk dilakukan, khususnya dengan negara-negara ASEAN Plus Three/APT (Tiongkok, Jepang, Korea Selatan),” katanya.

Dalam kaitan ini, lanjut Retno, Indonesia telah menyampaikan concept notes mengenai pentingnya memperkuat APTERR (ASEAN Plus Three Emergency Rice Reserve Agreement) yang mengusulkan peningkatan jumlah earmarked stok beras dari negara ASEAN Plus Three serta penambahan jenis komoditas pangan dalam APTERR.

Baca juga: Retno Tuding Junta Militer Myanmar tidak Berniat Jalankan Konsesus ASEAN

“Secara khusus, dengan berbagai dinamika kawasan maupun global, isu ketiga yang saya sampaikan adalah kita menekankan pentingnya perkuat kapasitas da efektivitas institusi ASEAN agar mampu menghadapi berbagai tantangan yang ada saat ini dan di masa mendatang,” ungkapnya.

Dalam kaitan inilah, menurut Retno, Indonesia melihat kerja dari High Level Task Force (HLTF) on ASEAN Community Post-2025 Vision sangat penting artinya.

“Isu lain yang saya bawakan dalam pertemuan Plenary adalah pentingnya untuk terus mengarusutamakan isu women, peace and security dalam agenda kerja ASEAN. Kita menyampaikan bahwa sejak 2020, kawasan Asia Tenggara telah memiliki Southeast Asian Network on Women Peace Negotiators and Mediators (SEANWPNM). Ini adalah inisiatif dari Indonesia,” ungkapnya.

Retno mengatakan jaringan ini telah terhubung dengan lima network lain di berbagai kawasan. Indonesia menekankan pentingnya kegiatan SEANWPNM dapat disinergikan dengan kegiatan-kegiatan ASEAN mengingat network ini akan dapat memberikan kontribusi bagi perdamaian, stabilitas dan kemakmuran di kawasan.

“Isu lain yang dibahas adalah terkait dengan aksesi Timor Leste menjadi angota

ASEAN. Saya sampaikan bahwa Indonesia meminta agar proses ini harus dipercepat karena aksesi memiliki nilai strategis bagi stabilitas dan perdamaian di kawasan,” pungkasnya. (Cah/OL-09)


admin

Leave a Reply

Your email address will not be published.