Fahri Hamzah: Yang Menyatukan Partai Politik Itu Bohir | 31left

Laporan Reporter Tribunnews.com, Naufal Lanten

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Wakil Ketua Umum Partai Gelora Fahri Hamzah berbicara soal koalisi partai politik (parpol) jelang Pemilihan Umum (Pemilu) hingga Pilpres 2024.

Menurut Fahri Hamzah, bergabungnya partai politik jelang Pemilu tak lepas dari peran pemodal.

“Umumnya dalam pengalaman saya, maaf ini pengalaman 15 tahun mengikuti Pilpres, yang menyatukan partai politik itu memang bohir,” kata Fahri Hamzah dalam diskusi virtual bertajuk ‘Siapa Presiden dan Wapres Indonesia 2024’, Selasa (15/11/2022).

“Yang menytukan partai politik itu adalah para pembayar. Karena kita tidak mengatur secara rigid tentang keuangan Pilpres,” lanjut dia.

Lebih lanjut dia mengatakan bahwa ‘bohir’ tersebut akan membuat keputusannya pada akhir 2023 mendatang, tepatnya pada Bulan September.

Sebab menurut dia, para ‘bohir’ tersebut tidak akan menentukan pilihannya saat ini.

Baca juga: Nomor Urut Parpol Diwacanakan Masuk Perppu Pemilu, Ini Penjelasan Kemendagri

“Tidak ada bohir berani taruh kartu sekarang, itu omong kosong, bohong itu. Tidak mungkin. Karena ini kaya main catur. Kamu menggerakan pion yang mana. Kamu menggerakan catur yang mana. Ga bisa dia taro dari sekarang,” katanya.

Faktor tersebut, lanjut dia, juga mempertimbangkan bahwa partai politik masih belum mendapat kepastian dari Komisi Pemilihan Umum (KPU).

Selain itu, Fahri beranggapan bahwa jika ada parpol mengusung capres lebih dahulu maka dikhawatirkan ada sosok lain yang bisa mengalahkan capres yang lebih dahulu diusung.

Baca juga: Mayoritas Fraksi di DPR, KPU, dan Pemerintah Sepakat Nomor Urut Parpol Dimasukkan ke Perppu Pemilu

“Bohirnya jadi tekor di depan. Enggak bakalan mau. Jadi ini yang menyatukan. Terutama kalau partainya lebih dari satu, semakin banyak semakin kacau gitu ya, ya itu bohir,” katanya.

Fahri lantas menyinggung soal Pemilu lalu.

Pada saat itu, kata dia, bohir turut berperan menentukan sosok capres hingga cawapres yang diusung maju di Pemilu.

“Si ini dianggap sanggup. Si ini ada yang membayar, begitulah. Si ini dianggap meyakini ini bisa melawan ini. Jadi kritik saya ini adalah kritik terhadap sistem bukan kritik terhadap figur,” katanya.

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *