Faktor Penghambat Pengobatan Gagal Jantung | 31left

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Rina Ayu

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA — Selain karena faktor penyakit komorbid, kesulitan pengobatan gagal jantung juga disebabkan oleh keterlambatan penanganan.

Tak hanya itu, adanya hambatan untuk mengakses layanan kesehatan karena berbagai faktor penentu, yakni sosial ekonomi, Pendidikan, dan kesadaran kesehatan masyarakat. 

Demikian dikatakan Ketua umum PP Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI), Dr. dr Isman Firdaus, Sp.JP (K), dalam sebuah webinar, Sabtu (28/5/2022).

“Karena itu, penyediaan akses obat-obatan penyakit kardiovaskular sangat penting dan perlu diprioritaskan ke dalam agenda nasional maupun global,” kata Dokter Isman.

Baca juga: Makin Sering Rawat Inap, Kelangsungan Hidup Pasien Penyakit Jantung Makin Rendah

PERKI dengan Kelompok Kerja (Pokja) gagal jantungnya senantiasa konsisten berusaha memperbaiki tatalaksana gagal jantung, melalui pengobatan, pencegahan, dan edukasi.

Dalam mendukung pengobatan penyakit gagal jantung sendiri, saat ini telah ada temuan baru untuk penyakit gagal jantung dengan penurunan fraksi ejeksi (HFrEF). 

Pengobatan terbaru ini menggunakan golongan SGLT2-inhibitor. Di Indonesia salah satu obat SGLT2-inhibitor adalah Empagliflozin, yang pada 4 Maret 2022 lalu, telah mendapatkan persetujuan dari Badan POM untuk indikasi: pengobatan pasien dewasa dengan gagal jantung kronik yang bergejala akibat fraksi ejeksi yang menurun atau yang lebih dikenal dengan Heart Failure with reduced Ejection
Fraction/HFrEF.

Persetujuan BPOM ini didasarkan pada hasil studi empagliflozin untuk pengobatan HFrEF, yaitu studi EMPEROR-Reduced yang dipublikasikan pada tahun 2020.

Head of Medical Zuellig Pharma Therapeutics Indonesia dr. Constantine Heryawan mengatakan, kedepannya masih banyak penelitian empagliflozin dalam bidang kardiovaskular yang dapat memberikan harapan baru bagi pasien-pasien dengan penyakit jantung. 

Baca juga: Bisa Mengurangi Risiko Penyakit Jantung, Ini Teknik Olahraga Brisk Walking

“Kami berkomitmen dan berharap dapat terus berkolaborasi dengan asosiasi medis seperti PERKI dan Pokja Gagal Jantung, begitu juga dengan dokter-dokter di Indonesia untuk mengembangkan tatalaksana gagal jantung, melalui edukasi, program untuk pasien, atau bahkan penelitian klinis,” kata dia dikesempatan yang sama.

Chief Operating Officer Zuellig Pharma Therapeutics Aylie Widjaja menambahkan, pentingnya meningkatkan kesadaran tentang penyakit jantung, tidak hanya bagi diri sendiri tetapi juga untuk orang-orang di sekitar kita. 

Menurunkan beban penyakit kardiovaskular di Indonesia tidak hanya tugas salah satu pihak, namun peran semua lapisan masyarakat (pasien, dokter, keluarga pasien, dan pembuat kebijakan).

admin