Hepatitis Akut Ditetapkan sebagai KLB, Mantan Petinggi WHO: Bukan Berarti Jadi Wabah yang Meluas | 31left

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Rina Ayu

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA — Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara Prof Tjandra Yoga Aditama menyatakan, penetapan status kejadian luar biasa (KLB)  yang disematkan pada kondisi infeksi Hepatitis Akut saat ini tidak perlu dikhawatirkan berlebihan.

Menurutnya, yang perlu dilakukan kini adalah meningkatkan kewaspadaan dengan menjaga kebersihan diri dan makanan, serta melengkapi anak dengan imunisasi.

Selain itu, di sisi lain yakni negara tentu perlu mengambil langkah antisipasi yang diperlukan, dimana para pakar sedang mencari  bukti-bukti  ilmiah yang akan tersedia dalam hari-hari mendatang ini.

“Kita jelas perlu waspada tetapi tidak perlu juga menjadi panik tidak beralasan. Masyarakat melakukan langkah kewaspadaan pada keluarga kita,” kata dia dalam keterangan tertulisnya, Rabu (4/5/2022).

Baca juga: Pakar IDI Bantah Hepatitis Akut Berhubungan dengan Vaksinasi Covid-19

Mantan Dirjen Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan ini memaparkan,
Hepatitis Akut ini belum jelas penyebabnya, meski sampai 3 Mei 2022 ini WHO kantor Amerika menyatakan sudah ada lebih dari 200 kasus dari 20 negara di dunia.

“Ini bermula dari  pada 5 April 2022 WHO pertama kali mendapat notifikasi kasus ini dari Inggris, yang kemudian dimasukkan dalam Disease Outbreak News (DONs) WHO 15 April 2022, yang berbagai berita menyebutnya sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB) oleh WHO,” ungkapnya.

Menurutnya, jika ada kasus penyakit apapun di dunia yang tidak seperti biasa ini maka akan dimasukkan dalam Disease Outbreak News (DONs).

“Jadi ini prosedur rutin di WHO untuk menyajikan informasi ke dunia tentang kejadian kesehatan masyarakat yang penting, atau yang berpotensi menjadi hal yang penting,” imbuh pakar kesehatan dari FKUI ini.

Diketahui, sepanjang bulan April 2022 ada 10 penyakit Disease Outbreak News WHO, yaitu Hepatitis ini dengan laporan pertama 15 April di Inggris dan Irlandia serta 23 April di berbagai negara, lalu juga ada Ebola di Kongo, Japanese encephalitis di Australia, Salmoneum thypimurium di berbagai negara, Kolera di Malawi, Malaria di Somalia, Demam Kuning di Uganda, VDPV (vaccine derived polio virus) tipe 3 di Israel dan MERS CoV di Saudia Arabia.

“Jadi ada banyak (penyakit KLB yang ditetapkan WHO), bukan hanya Hepatitis. Artinya, penempatan penyakit tertentu di dalam Disease Outbreak News (DONs) justru maksudnya agar dunia mengetahui informasi awal dan menjadi perhatian bersama, belum tentu berarti akan menjadi wabah luas dunia atau tidak,” jelas direktur pasca sarjana RS Yarsi.

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published.