IMF: Hambatan Perdagangan China Picu Kontraksi Ekonomi Global | 31left

Laporan Wartawan Tribunnews.com  Namira Yunia Lestanti

TRIBUNNEWS.COM, BEIJING – Kepala Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF) Kristalina Georgieva menyebut bahwa ekonomi global saat ini tengah mengalami lonjakan kerugian sebesar 1,4 triliun dolar AS.

Kerugian ini membengkak sebagai imbas dari munculnya hambatan perdagangan di China akibat kebijakan pengamanan wilayah atau lockdown Covid-19.

Dalam wawancaranya yang dilakukan Georgieva di sela-sela pertemuan Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC) yang digelar di Bangkok pada pekan ini, Georgieva mengatakan bahwa hambatan perdagangan China tak hanya memperlambat ekonomi dunia, namun juga berpotensi membuat Asia mengalami kerugian sebanyak 3 persen dari produk domestik bruto (PDB).

Baca juga: Prospek Ekonomi Global Terlihat Suram, IMF: Tantangan yang Dihadapi akan Semakin Besar

Jumlah tersebut meningkat dua kali lipat dari proyeksi sebelumnya, kondisi tersebut tentunya makin memperparah kontraksi yang dialami ekonomi dunia akibat inflasi yang ditimbulkan dari perang Rusia – Ukraina.

“Apa yang saya harapkan adalah beberapa pembalikan dalam blok kebijakan terhadap China dan global. Dunia akan kehilangan 1,5 persen dari produk domestik bruto dan merugi 1,4 triliun dolar AS,” ujar Kristalina Georgieva dalam sebuah wawancara di Bangkok, Sabtu (19/11/2022).

Mengingat kawasan Asia lebih terintegrasi ke dalam rantai nilai global, Georgieva memperingatkan agar seluruh negara di kawasan ini khususnya negara berkembang harus kompak meredam inflasi dan mengatasi fragmentasi dengan cara mendesak para gubernur bank sentral untuk mengerek naik suku bunga acuan.

Langkah tersebut perlu diambil lantaran biaya pembayaran utang berdenominasi dolar di lingkungan ekonomi global telah mengalami lonjakan hingga mencapai dua digit selama 2022.

Baca juga: IMF Pangkas Perkiraan Ekonomi Asia Menjadi 4 Persen Tahun Ini, Imbas Perlambatan Ekonomi China

Hal tersebut apabila tidak diimbangi dengan pengetatan moneter maka menekan sektor konsumsi dan berpotensi mengikis ekonomi hingga mendorong suatu negara masuk ke jurang resesi, seperti yang dikutip dari Straitstimes.

 “Meningkatnya biaya pembayaran utang berdenominasi dolar akan memukul 25 persen pasar negara berkembang berdagang di wilayah tertekan, sementara 60 persen negara berpenghasilan rendah akan mendekati kesulitan utang,” jelas Georgieva.

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *