Jadi Penari Tradisional Bali, Ini Stigma yang Kerap Diterima Ni Ketut Putri Minangsari | 31left

Parapuan.co- Salah satu penari tradisional Bali profesional bernama Ni Ketut Putri Minangsari membagikan ceritanya soal stigma yang kerap ia alami.

Perempuan yang dijuluki “Mbok” oleh para murid-muridnya ini juga pernah menghadiri acara Ubud Writers and Readers Festival.

Ia tampil di acara tersebut dengan membawakan puisi sambil menari Legong.

Namun ia lebih ingin dikenal sebagai seorang penari, bukan penulis.

“Saat ditanya orang, kamu itu apa, saya selalu bilangnya penari dulu. Saya penari yang hobi menulis mungkin haha. Jadi persona saya lebih ke seniman tari,” cerita Putri dikutip dari Parapuan.co.

Meski Putri bangga dengan profesi penari, namun ia kerap mendapat stigma negatif dan tidak sedikit yang mempertanyakan prospek pekerjaan ini di masa depan.

Seperti yang diketahui, banyak penari tradisional yang akhirnya beralih profesi dan berhenti menari.

Apalagi, banyak penari tradisional yang nasibnya kurang diperhatikan oleh pemerintah.

“Pemerintah mungkin tidak terlalu memprioritaskan tari dan seni budaya. Mau tidak mau, ya kita sendiri sebagai penari yang melestarikan tari tradisi Bali, yang tadinya sempat redup seperti tari Legong,” ujar Putri.

Leave A Reply

Your email address will not be published.