JNE Rela Honor Kerja Sama Dipotong agar Beras Bansos Tidak Disalahgunakan | 31left

TRIBUNNEWS.COM,  JAKARTA – Perusahaan jasa pengiriman, PT Tiki Jalur Nugraha Ekakurir (JNE)  mengungkap alasan mengubur beras Bantuan Sosial (Bansos) Presiden di Kawasan  Tirtajaya, Kecamatan Sukmajaya, Kota Depok, Jawa Barat.

Kuasa Hukum JNE,  Hotman Paris Hutapea mengatakan pihaknya takut jika beras yang sudah busuk itu  dibuang ke sembarang tempat akan disalahgunakan oleh pihak tidak  bertanggungjawab.

“Kalau nanti ini beras dibuang sembarangan takutnya disalahgunakan orang, dipakai,” kata Hotman Paris dalam konferensi pers di kawasan Pluit, Penjaringan, Jakarta Utara, Kamis (4/8/2022).

“Apalagi itu karung itu kan ada logonya banpres kalau kita buang sembarang tempat  nanti sama orang diambil dibuang nanti kita yang dituduh membuangnya,” kata Hotman.

Baca juga: Hotman Paris Ungkap Nilai Bansos Rusak yang Dibuang JNE

Selain itu, kata Hotman, beras yang rusak itu pun sudah diganti dengan yang baru oleh perusahaan untuk selanjutnya kembali dibagikan ke masyarakat.

“Beras penggantinya  dipesan baru dan kemudian dibagikan ke rakyat. Dari kantong sendiri JNE sebagai  perusahaan,” ucap Hotman.

Ia menjelaskan, mekanisme pembayaran atas beras yang rusak ini melalui pemotongan honor kerja sama antara JNE dengan stakeholder terkait.

“Untuk mencegah beras  disalahgunakan karena sudah busuk takut timbulkan masalah apalagi ada stempel  banpres nanti malah JNE yang dituduh,” tuturnya.

Hotman menyatakan, beras yang didistribusikan oleh JNE sebanyak 6.199 ton untuk 247.997 keluarga penerima manfaat (KPM) di wilayah Depok.

Menurutnya dari sekian  ribu ton bansos tersebut, pastinya menjadi hal wajar jika ada sebagian kecil mengalami  kerusakan saat pengiriman.

Leave A Reply

Your email address will not be published.