Ketua MPR RI Bamsoet Bicarakan Urgensi Jalan Tengah Perdamaian Dunia | 31left

TRIBUNNEWS.COM – Ketua MPR RI Bambang Soesatyo membicarakan tentang urgensi jalan tengah perdamaian dunia. Di mana, menurutnya dalam 14 tahun terakhir, indeks perdamaian global terus mengalami penurunan. 

“Kita patut bermawas diri, bahwa di tengah maraknya upaya berbagai entitas global dalam mewujudkan perdamaian dunia, kita justru dihadapkan pada fakta statistik, bahwa indeks perdamaian global terus menerus memburuk dan mengalami penurunan hingga 3,2 persen selama kurun waktu 14 tahun terakhir, sebagaimana terungkap dari rilis Institut Ekonomi dan Perdamaian (Institute for Economics and Peace),” jelas pria yang akrab disapa Bamsoet itu. 

Lebih lanjut lagi, Bamsoet juga meminta Indonesia untuk merenungkan kembali, apakah komunitas internasional sudah melangkah di jalan yang tepat dalam memperjuangkan keadilan global.

Pasalnya, menurut World Justice Project pada bulan Oktober 2022 mengungkapkan bahwa 61 persen dari 140 negara yang disurvei, tingkat kepatuhan terhadap supremasi hukum justru mengalami penurunan, dan penghormatan terhadap hak asasi manusia kian melemah.

Di sisi lain, Wakil Ketua Umum Partai Golkar ini menilai keadilan global juga akan sulit diwujudkan, manakala kepatuhan terhadap norma dan hukum internasional masih menjadi isu yang diperdebatkan, dan dalam penerapan sanksinya pun masih menyisakan persepsi adanya perbedaaan standar.

Demikian pula halnya dengan upaya dunia dalam mewujudkan kesejahteraan bagi penduduk dunia. Di tengah modernitas zaman yang terus melaju, yang ditopang oleh lompatan kemajuan teknologi, kita juga dihadapkan pada kenyataan bahwa menurut catatan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada bulan Juli 2022, sekitar 345 juta orang penduduk dunia saat ini dalam kondisi sangat kelaparan.

“Sebagaimana kita ketahui, bahwa selama lebih dari 2 tahun pandemi Covid-19 telah menghantam perekonomian dunia, yang juga berdampak pada melemahnya tingkat kesejahteraan masyarakat global. Resesi ekonomi dan peningkatan angka pengangguran menjadi isu yang mengemuka di berbagai negara. Organisasi Perburuhan Internasional (International Labour Organization) memproyeksikan bahwa tingkat pengangguran global dapat mencapai 207 juta orang pada tahun 2022, di mana 73 juta di antaranya adalah kelompok usia muda,” ucap pria yang juga Dosen Tetap FHISIP Universitas Terbuka ini.

Dengan adanya ketimpangan kemampuan setiap negara dalam mananggulangi dan memulihkan diri dari dampak pandemi Covid-19, yang diperburuk oleh dampak perubahan iklim, dan masih berlangsungnya konflik bersenjata yang berdampak pada krisis pangan, krisis energi, dan krisis keuangan global, maka hampir dapat dipastikan angka kelaparan akut global, berpotensi terus mengalami peningkatan.

Di tengah gambaran paradoks dalam mewujudkan perdamaian, keadilan, dan kesejahteraan masyarakat global, Bamsoet mengungkapkan gagasan menjadikan Persaudaraan Insani dan Jalan Tengah sebagai pondasi dan titik tumpu, menemui urgensinya.

Pertama, Persaudaraan Insani, sebagaimana kita rujuk pada dokumen “Persaudaraan Insani untuk Perdamaian Dunia dan Hidup Bersama” (Human Fraternity for World Peace and Living Together) yang ditandatangani bersama oleh Paus Fransiskus dan Imam Besar Al Azhar Ahmed el-Tayeb pada tanggal 4 Februari 2019, adalah penegasan komitmen untuk membangun sinergi dan kolaborasi dalam menghadapi berbagai krisis global, seperti konflik bersenjata / perang, penindasan, dan kemiskinan.

Dokumen ini mengedepankan pendekatan transendental untuk membangun semangat persahabatan dan persaudaraan antar umat manusia. Lebih jauh lagi, dokumen ini juga dapat kita maknai sebagai kritik atas realitas global, yang belum sepenuhnya sepadan dengan besarnya upaya kita untuk mewujudkan kehidupan dunia yang damai, adil, dan sejahtera.

Pokok pikiran yang menjiwai gagasan persaudaraan insani, di satu sisi mengisyaratkan urgensi untuk mengedepankan sikap dan perilaku yang berlandaskan pada kemurnian hati nurani, kepekaan sosial, moralitas dan nilai-nilai keagamaan. Di sisi lain, spirit persaudaraan insani juga meniscayakan untuk mereduksi dominasi perilaku individualistis dan materalialistis.

“Apsek kedua, konsep Jalan Tengah. Jika kita tarik benang merah dari setiap pemicu terjadinya krisis global, salah satunya adalah adanya gap, ketimpangan, dan ke-tidak-seimbangan, baik dalam dimensi ekonomi, sosial, maupun politik. Kita merasakan, betapa bumi tempat kita berpijak saat ini sudah semakin bertambah ‘tua’. Kemampuan bumi untuk menopang kehidupan umat manusia semakin menurun, seiring dengan semakin menipisnya dukungan sumberdaya alam, khususnya sumberdaya alam yang tidak dapat diperbaharui. Kondisi ini diperburuk oleh krisis iklim dan kerusakan lingkungan, yang sebagian besar justru disebabkan oleh kelalaian kita sendiri,” jelasnya. 

Menurunnya daya dukung semesta terhadap kehidupan umat manusia, berbanding terbalik dengan pertumbuhan penduduk yang melaju dengan deret ukur. Tanggal 15 November 2022 yang lalu, PBB memproyeksikan bahwa jumlah penduduk dunia diperkirakan akan mencapai 8 miliar jiwa. Ketimpangan kemampuan alam untuk menopang kehidupan penduduk dunia, jika tidak disikapi dengan benar, dapat memicu lahirnya konflik perebutan sumberdaya alam.

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *