Krisis Energi, Sri Lanka Kirim Perwakilannya untuk Cari Diskon Minyak Mentah ke Rusia | 31left

Laporan Wartawan Tribunnews, Namira Yunia Lestanti

TRIBUNNEWS.COM, KOLOMBO – Sri Lanka mengeluarkan perintah pada ketiga menterinya untuk melakukan perjalanan bisnis ke Rusia dan Qatar, guna mencari diskon minyak mentah di tengah adanya krisis bahan bakar.

Dikutip dari Channel News Asia, perjalanan bisnis ini dilaksanakan Sri Lanka pada Senin (27/6/2022).

Dengan mengutus menteri energi Sri Lanka, Kanchana Wijesekera untuk melakukan perjalanan ke Qatar sementara dua menteri lainnya akan ditugaskan untuk melakukan pembicara dengan presiden Rusia Vladimir Putin.

Baca juga: Sri Lanka Naikkan Harga Bahan Bakar, Pasokan BBM Kini Hanya Cukup untuk Dua Hari

“Dua menteri akan pergi ke Rusia dan saya akan pergi ke Qatar besok untuk melihat apakah kami dapat mengatur persyaratan konsesi,” jelas Wijesekera kepada wartawan di Kolombo.

Rencana ini disampaikan setelah perusahaan energi Ceylon Petroleum Corporation mengumumkan kondisi bahan bakar di Sri Lanka yang saat ini hampir kehabisan stok bensin dan solar, imbas kosongnya cadangan devisa negara untuk melunasi pembayaran pengiriman BBM sebesar 700 juta dolar AS.

Hal inilah yang membuat kapal kargo pengangkut BBM Sri Lanka terpaksa di tangguhkan sampai Sri Lanka melunasi pembayarannya.

Bahkan di tengah adanya krisis tersebut, Ceylon Petroleum Corporation nekat menaikan harga BBM guna mengumpulkan pundi – pundi pendapatan untuk membeli lebih banyak minyak menyusul pembelian 90.000 ton minyak mentah Siberia bulan lalu. Tercatat harga solar dinaikkan sebanyak 15 persen menjadi 460 rupee, sementara untuk harga bensin naik 22 persen 550 rupee.

Kenaikan ini bukanlah kali pertama yang dialami Sri Lanka, sebelumnya pemerintah telah lebih dulu menaikan harga BBM jenis diesel sebanyak empat kali lipat dan harga bensin sudah naik tiga kali dari harga tahun lalu.

Apabila rencana kerjasama ini disetujui oleh Rusia dan Qatar, maka nantinya Sri Lanka akan langsung menugaskan Ceylon Petroleum Corporation untuk menampung impor energi dari kedua negara tersebut.

Baca juga: Menteri Energi Sri Lanka Janji Pengiriman Kargo 40.000 Metrik Ton Bensin 92 Tiba Akhir Pekan Ini

Lebih lanjut angka inflasi Sri Lanka pada akhir Mei lalu telah tembus mencapai 45,3 persen, sementara ekonom swasta menempatkan pendapatannya sebanyak 128 persen. Dengan angka tersebut tentunya menambah beban inflasi di Sri Lanka, hingga pihaknya menjadi negara yang mengalami inflasi tertinggi kedua di dunia setelah Zimbabwe.

Kondisi memprihatinkan inilah yang kemudian membuat Deputi Asisten Menteri Keuangan AS berkomitmen untuk menyuntikan 158,75 juta dolar AS dalam pembiayaan baru bagi warga Sri Lanka selama dua minggu kedepan.

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published.