LISTYO SIGIT PRABOWO : Berubah dari Zona Nyaman | 31left

MESKI sangat menyita perhatian publik, kasus kematian Brigadir Yosua yang melibatkan mantan Kadiv Propam Polri Irjen Ferdy Sambo bukan satu-satunya kasus kontroversial. Kasus-kasus polisi pesta narkoba, terlibat penganiayaan, dan sejumlah kasus yang berlarut menyebabkan munculnya tagar #Percumalaporpolisi.

Program Kick Andy Double Check yang tayang malam ini di Metro TV pun menampilkan Kapolri Jenderal Listyo Sigit guna menjawab segala sorotan publik itu. Kali ini dibawakan Aviani Malik, wawancara episode Potong Kepala ala Kapolri itu berlangsung di Markas Besar Polri, Jakarta Selatan.

“Di tengah cobaaan yang bertubi-tubi yang menimpa institusi Polri, baik dari internal maupun eksternal, utamanya belakangan ialah peristiwa Duren Tiga. Bagaimana Anda menjalani keseharian, masih bisa tidur nyenyak?” tanya Aviani mengawali pembicaraan mendalam dengan Kapolri.

Sigit yang memegang jabatannya sejak 27 Januari 2021 itu sempat tersenyum dan menghela napas sebelum menjawab. “Peristiwa Duren Tiga, khususnya, yang terjadi beberapa waktu lalu memang menyita perhatian dan setiap harinya diikuti masyarakat karena memang ini menjadi peristiwa yang istilahnya kemudian jadi ‘pembicaraan warung kopi’. Ini menjadi komitmen kami, sesuai arahan dari Presiden untuk membuat terang peristiwa yang ada,” kata pria yang pernah menjabat Kabareskrim dan Kadivpropam itu.

Sebegaimana yang sudah diungkapkan di beberapa kesempatan, Sigit kembali menekankan komitmen soal transparansi dan akuntabilitas. Ia mengatakan bukti-bukti saintifik menjadi acuan kuat dan tidak ada yang ditutup-tutupi.

“Seperti yang kita lihat, memang dari proses yang ada. Pada saat dan setelah terjadi peristiwa, bagaimana kemudian muncul informasi terakhir dengan kejanggalan-kejanggalan. Sebab itu, saya memutuskan untuk membentuk tim khusus yang terdiri dari beberapa pejabat utama di Polri.”

Sigit mengakui kasus Duren Tiga tidak sesederhana seperti yang menjadi dugaan awal. Bahkan, saat tim khusus telah dibentuk dan bekerja pada sepekan awal, ia mengatakan tidak seperti yang diharapkan.

Ia juga mengakui jika FS berusaha mempertahankan skenario palsu, termasuk ke dirinya. “Ada upaya-upaya dari FS pada saat itu untuk mempertahankan skenario awal karena kemudian ada dua skenario atau versi. Peristiwa yang disampaikan FS ialah terkait dengan tembak-menembak. Namun, di belakangnya ditemukan peristiwanya bukan seperti itu, melainkan peristiwanya ialah penembakan pada Brigadir Yosua. FS ketika itu berusaha mempertahankan skenario awal ke banyak pihak. Termasuk ke saya.”

Potong kepala

Selain membahas kasus Sambo, Aviani juga mempertanyakan bukti dari pernyataan Sigit soal ‘potong kepala’. “Salah satu yang sempat Anda sampaikan sebagai Kapolri, jika tidak mampu membersihkan ekornya, kepalanya akan Anda potong. Sejauh ini, sudah ada berapa ‘kepala’?” Lanjut Avi mempertanyakan keseriusan Kapolri dalam mewujudkan transformasi di kepolisian.

Jenderal berusia 53 tahun ini menjelaskan sudah tancap gas untuk menjalankan program transformasi menuju Polri yang presisi, sejak awal menjabat Kapolri. Ia mengakui jika ada budaya yang kerap dilakukan banyak oknum di instansi itu yang sebenarnya mencederai masyarakat.

“Ini saatnya kita berubah dari zona nyaman, yang dianggap teman-teman itu tadinya ialah hal benar, tetapi di mata publik itu hal yang sebenarnya mencederai masyarakat,” tukasnya. “Seperti apa contohnya yang dianggap benar (oleh polisi)?” tanya Aviani.

“Ya pungli misal. Budaya setor pada atasan. Terkait dengan hal-hal itu, kami sudah lama lakukan penindakan. Kami mutasi. Sudah ada beberapa kapolda, kapolres, dan direktur yang kami pindahkan karena hal-hal tersebut. Ada hampir 25-30 orang, sebelum kasus Sambo,” ungkap Sigit.

Serangan siber

Wawancara kemudian beralih ke kasus yang juga tengah ramai, yakni penyebaran data-data pejabat oleh peretas dengan nama Bjorka. Diakui Sigit, dalam analisisnya, Indonesia memang menjadi salah satu negara yang paling empuk menjadi sasaran kejahatan siber. Tingkat keamanan siber Indonesia saat ini sangat rentan.

“Jadi secara garis besar ada dua jenis kejahatan siber. Computer related crime, ini kejahatan yang menggunakan ITE, seperti perjudian, penipuan yang menggunakan teknologi informasi, seperti yang kemarin ngetren itu robot trading. Pada 2021, kasusnya lumayan banyak. Jumlahnya sekitar 2.700,” jelasnya.

Ia melanjutkan, jenis kejahatan siber ke-2 ialah cyber computer crime. “Ini biasanya juga melibatkan aktor lintas negara. Kasusnya lebih seperti yang manipulasi data, mengganggu sistem,” tukasnya.

Aviani kemudian mencecar soal kesulitan Polri kesulitan menangkap Bjorka, bahkan hingga menangkap pemuda penjual es di Madiun, Jawa Timur. Belakangan, pemuda yang bahkan menurut sang ibu tidak memiliki komputer, itu sudah dibebaskan.

“Ini polisi salah tangkap, terburu-buru, atau seperti apa?” tanya Aviani. “Penyidik memiliki pertimbangan. Ini bagian dari hal-hal yang kami sebut sebagai strategi penyidikan. Jadi kami terus bergerak. Belum bisa mengungkap sasaran utama kami. Kan ada klasifikasinya, pelaku utama, pintu masuk, dan yang terafiliasi,” jawab Sigit.

Lebih lanjut, Sigit juga menjelaskan strategi institusinya ke depan dalam menjaga keamanan siber, termasuk menjelang Pilpres 2024. Nantinya, ia juga akan mengupayakan didirikannya direktorat siber di tiap polda. Prosesnya, katanya, saat ini tengah berjalan di Kemenpan-Rebiro. Simak perbincangan selengkapnya dalam tayangan malam ini pukul 21.05 WIB. (M-1)


admin

Leave a Reply

Your email address will not be published.