Mantarima Tamu, Bagian dari Upacara Kematian di Toraja | 31left

PADA mulanya To Manurung di Langi’ turun ke bumi, tepatnya di hulu Sungai Sa’dan, Toraja. Di sana ia bertemu dengan To Kombong di Bura’. Perkawinan To Manurung di Langi’ dan To Kombong di Bura’ melahirkan anak yang bernama To Banua Pong. To Banua Pong lalu kawin lagi dengan To Bisse di Tallang. dari perkawinan mereka lahir sekian turunan yang salah satunya bernama I Pongka Padang. I Pongka Padang meninggalkan Toraja dan menyisir sungai hingga Tabulahan, Mamasa.

Syahdan, setelah perjalanan panjang, I Pongka Padang bertemu dengan Torije’ne. Perkawinan I Pongka Padang dan Torije’ne melahirkan sekian turunan lagi yang kemudian tersebar di berbagai wilayah di pegunungan dan pesisir. Secara geopolitik, berbagai wilayah tersebut masuk area Provinsi Sulawesi Selatan dan Barat hari ini. Termasuk salah satunya Balanipa, tempat saya lahir, tumbuh, dan mendengar kisah ini.

Demikian ringkasan fragmen yang berkembang dalam cerita tutur masyarakat Toraja Mamasa Mandar serumpun. Sebagai mitologi, tentulah ini hanya satu versi dari sekian tuturan tetuah–tetuah yang lain dan akan terus berkembang sebagaimana sifat tradisi lisan yang selalu mengalamI eksplorasi di mulut si penutur dari generasi ke generasi. Ia tak pernah benar-benar utuh.

Namun, narasi besar yang berlatar dari langit, sungai, gunung, hingga pesisir, yang merekatkan satu tokoh dengan tokoh lain dan melahirkan tokoh-tokoh baru lagi, dari yang mulanya terpisah dan dipertemukan, ialah hal yang lebih penting untuk kita serap sebagai makna yang menunjukan cikal persatuan, bahkan menjadi pesan untuk terus mewariskan perekatan-perekatan tersebut, menyambung lagi tali turunan itu hingga kini.

Cerita tutur mengenai mitologi ini saya temui saat mengunjungi ke Toraja untuk menyaksikan Rambu Solo, upacara pemakaman adat setempat. Bersama seorang kawan, saya menginap di rumah milik Bapak Limbong, tetua adat Kampung Ba’lele. Sebulan sebelumnya saya telah berkenalan dengan Farel Datu Paseru, mahasiwa Sastra UKI Toraja, yang baru saya kenal lewat Facebook. Namun, karena tahu saya dari Mandar, dan ia juga cukup punya wawasan akan silsilah keturunan dari cerita tutur di atas, ia tak berpikir panjang dan justru senang ada saudara jauhnya yang datang ke tanah leluhur, mengajak kami menginap di tempat kakeknya.

Di atas tongkonan (rumah adat Toraja), saya memperhatikan jejeran tanduk kerbau yang menancap di tiang setinggi atap serta gambar-gambar yang tak saya pahami di dindingnya. Saya berpikir ini falsafah Toraja. Mereka mengukir identitas mereka di dinding tongkonan sebagai alarm setiap saat untuk terus menjaga sikap sebagaimana makna-makna yang dikandung gambar-gambar tersebut.

Farel membenarkan, sedangkan tanduk kerbau yang menancap ialah jejak upacara Rambu Solo, dengan tingkat rapasan sapurandan, atau tingkatan tertinggi yang bisa menghadirkan lebih dari 24 kerbau. Kata dia, tidak semua orang Toraja bisa mencapai itu.

Bagi orang Toraja, tongkonan ialah ibu karena peran perempuan yang amat besar bagi mereka. Posisinya yang menghadap ke utara karena di sanalah Sungai Sa’dan mengalir dan di sanalah Tuhan, menurut kepercayaan leluhur Aluk Todolo, berada.

Rambu Solo

Saat detak jantung terakhir orang Toraja berhenti, ditabuhlah gandrang atau lesung padi di halaman sebagai penanda kabar bahwa ada saudara yang sedang sakit dan akan istirahat selama berbulan-bulan, bahkan sampai bertahun-tahun. Ia akan dijaga anak atau cucu. Setiap hari ia akan disapa dan diajak bicara seperti biasa. Mereka menyebutnya sebagai tomakula atau tomamma. Nanti akan disebut meninggal sampai tiba hari ia bisa diupacarakan.

Upacara yang lazim disebut dengan Rambu Solo. Upacara tersebut bisa berlangsung bahkan sampai tujuh hari. Rambu Solo berarti asap yang berembus turun. Di hari terakhir upacaralah, sang mayat akan ditandu, setelah pukul 12 siang, mengikuti arah matahari yang terbenam. Itu juga sebagai simbol koneksi dengan leluhur yang telah menunggu di alam puya atau alam akhirat dalam konsep orang Toraja.

Dalam upacara itu, satu per satu kerbau dibawa serta. Dari kerbau yang biasa, hingga kerbau yang disebut tedong bonga, kerbau emas yang harganya mencapai ratusan juta. Kerbau ialah elemen penting dalam Rambu Solo karena bagi orang Toraja, kerbau itulah yang jadi kendaraan sang mayat untuk ke alam puya nantinya.

Ada sesi menarik dalam upacara ini, yakni ketika salah satu kerbau, yang ditubuhnya dibalut kain sarita, tenun khas Toraja, diajak bicara oleh Gora Gora Tongkon atau sosok yang memandu upacara Rambu Solo. Kerbau itu diperkenalkan silsilahnya dengan manusia, hubungannya dengan leluhur di langit, dan cerita-cerita lainnya sampai kerbau itu bisa hadir dalam upacara. Ia juga seperti diingatkan akan perjalanannya nanti saat membawa sang mayat ke alam puya.

Sesi tersebut dinamai dengan massinggi’ tedong. Itulah salah satu bagian yang bisa disaksikan upacara Rambu Solo. Meski ia menuturkannya dengan bahasa Toraja, akan lebih baik bila bisa duduk bersama orang Toraja, yang bisa sembari menerjemahkannya.

Mantarima tamu

Mantarima tamu berarti prosesi penerimaan tamu. Dua tradisi yang lazim dalam prosesi ini ialah ma’lambuk dan ma’badong. Ma’lambuk adalah sejumlah perempuan yang berdiri di depan lesung panjang. Mereka menumbuk layaknya sedang menumbuk padi sebab sesungguhnya tidak berisi apa–apa. Namun, dengan entakan dan irama yang rapi, bunyi lesung tersebut sebagai penanda bahwa nasi sedang dimasak untuk tamu–tamu yang datang. Berharap bunyi lesung terdengar ke kampung–kampung sebelah untuk merapat ke upacara Rambu Solo.

Sementara itu, para keluarga akan masuk, melingkar di hadapan lakkean, tempat sang mayat berbaring. Mereka saling menggenggam tangan. Melakukan ma’badong. Badong, bagi orang Toraja ialah ganti tangis. Mereka menggantinya dengan nyanyian yang diseru dengan kata ho ho hei hei secara berulang serta syair–syair yang berisi akan kebaikan sang mayat selama hidup. Ma’badong akan dilakukan secara bergantian oleh kelompok keluarga lain yang turut ingin bersenandung untuk sang mayat.

Saat mantarima tamu, anggota keluarga dan kerabat akan berdatangan dari berbagai daerah, dari lintas kota bahkan lintas pulau. Mereka akan berkumpul dan bertemu dalam prosesi ini. Semua yang hadir sudah sudah disediakan tempat masing-masing. Wisatawan atau tamu umum pun demikian.

Sebelumnya, perlu dicatat dalam upacara dapur itu dibedakan jadi dua. Ada dapur umum dan juga dapur khusus. Dapur umum untuk memasak nasi, sayur, serta lauk untuk tamu-tamu umum terutama yang muslim, dan dapur khusus untuk memasak semacam daging babi yang notabene dikonsumsi Kristen.

Meski orang Toraja, secara mayoritas Kristen, toleransi tetap terjaga di tempat ini. Bahkan, di tempat pertama yang saya hadiri, ambe yang diupacarakan, dari 15 bersaudara hanya dia yang Kristen. Sementara itu, semua saudaranya sudah masuk Islam. Mereka semua jauh–jauh untuk hadir. Jadi, dalam Rambu Solo, keluarga Kristen dan muslim akan bertemu karena berasal dari Aluk Todolo, akar kepercayaan yang sama.

Bagi orang Toraja, bila sudah tiba di tanah ini, terlebih lagi mau datang melihat upacara, semua sudah jadi saudara. Saya telah membuktikannya yang bahkan secara kebetulan, pada saat di Toraja, saya juga mengunjungi tempat lain yang juga sedang mengadakan Rambu Solo. Semua pelayanan sama. Semua yang datang dijamu dengan baik sepanjang hari sampai hari upacara selesai. (M-3)

 

 

 


admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *