Menimbang Prospek Juwet untuk Malaria | 31left

MALARIA masih menjadi masalah kesehatan global. Menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) 2020, pada 2019 diperkirakan ada 229 juta kasus malaria di 87 negara endemik di dunia. Jumlah kematian akibat malaria mencapai 409 ribu, paling rentan terkena malaria 67% (274 ribu) anak usia di bawah 5 tahun. Wilayah Afrika menjadi bagian tertinggi kasus malaria global. Total dana untuk pengendalian dan eliminasi malaria diperkirakan mencapai US$3 miliar. Kontribusi dari pemerintah di negara endemis mencapai US$900 juta, mewakili 31% dari total pendanaan.

Menurut data Kementerian Kesehatan (Kemenkes, 2021), total kasus malaria di Indonesia mencapai 94.610 pada 2021. Pada 2021 turun 58,2% jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya mencapai 226.364 kasus. Jika dilihat trennya, sejak 2018 kasus malaria yang terjadi di Indonesia cenderung menurun. Kasus malaria sempat meningkat pada 2019 mencapai 250.628 kasus. Kemudian, menurun pada 2020 dan kembali menurun pada 2021.

Kasus malaria tertinggi masih terkonsentrasi di Indonesia bagian timur. Papua menjadi provinsi dengan kasus malaria tertinggi di Tanah Air mencapai 86.022 hingga saat ini. Proporsi kasus malaria yang terjadi di provinsi tersebut mencapai 90,9% dari total. Kemudian, disusul Nusa Tenggara Timur mencapai 2.393 kasus (2,5%) dan Papua Barat sebanyak 1.841 kasus (1,94%). Berdasarkan angka kasus malaria yang tertinggi masih terjadi di wilayah timur Indonesia, hal itu menunjukkan masih ada kesenjangan yang tinggi kasus malaria antara Indonesia bagian timur dan Indonesia bagian lainnya.

 

Perkembangan resistansi plasmodium terhadap obat antimalaria

Untuk pengobatan malaria, saat ini WHO masih merekomendasikan menggunakan terapi kombinasi berbasis artemisinin (artemisinin-based combination therapies/ACTs) sebagai terapi lini pertama dan kedua untuk malaria tanpa komplikasi yang disebabkan oleh P falciparum. Masalah yang dihadapi sekarang resistansi Plasmodium terhadap obat antimalaria. Resistansi Plasmodium terhadap obat antimalaria artemisinin terjadi karena mutasi pada gen pfatpase6 codon 263, 431, 623, dan 769 yang secara tunggal atau bersama-sama sehingga dapat menurunkan kepekaan Plasmodium terhadap artemisinin.

Mutasi pada kelch 13 (K13) propeller region (PfKelch13 codon 580) menyebabkan perpanjangan bersihan parasit Plasmodium dari tubuh (delayed parasite clearance) baik secara in vitro maupun in vivo. Hasil penelitian baik secara in vitro maupun in vivo dengan hewan model malaria menunjukkan paparan artemisinin berulang pada Plasmodium falciparum galur 2300 dan Plasmodium.falciparum galur 3D7 in vitro menyebabkan perkembangan resistansi artemisinin melalui mekanisme dormansi parasit, yang merupakan cara Plasmodium falciparum beradaptasi untuk peningkatkan toleransi parasit Plasmodium pada obat.

Menghadapi masalah tersebut di atas sampai saat ini belum ada vaksin antimalaria yang dapat memberikan perlindungan penuh pada penderita. Dengan begitu, kontrol pada penyakit malaria masih sangat tergantung pada penggunaan obat antimalaria, baik untuk pengobatan maupun pencegahan. Itu sebabnya penemuan obat antimalaria baru dan model pengobatan tetap menjadi prioritas untuk dikembangkan.

 

Perkembangan obat antimalaria baru dan prospek terapi adjuvan

Adanya penyebaran parasit malaria yang resistan pada beberapa obat antimalaria sangat dibutuhkan dikembangkannya obat antimalaria baru. Senyawa-senyawa yang berpotensi sebagai obat antimalaria baru harus memiliki kebaruan dalam mekanisme kerja. Selain itu, tidak ada resistansi silang dengan obat antimalaria yang ada saat ini, penggunaan bisa menggunakan dosis tunggal, aktif terhadap stadium aseksual dan seksual, mampu mencegah infeksi (chemoprotective agents) dan membersihkan bentuk hypnozoite dari liver (anti-relapse agents).

Pencarian obat antimalaria baru bisa dari eksplorasi obat tradisional, eksplorasi kombinasi baru dari formulasi obat antimalaria saat ini. Pencarian obat antimalaria asal bahan alam banyak dilakukan. Rendahnya stabilitas, kelarutan, dan penyerapan obat asal bahan alam dapat menurunkan kesediaan obat di dalam darah dan kemanjuran obat sehingga perkembangan obat antimalaria baru asal bahan alam dengan teknologi formulasi nanopartikel mampu meningkatkan stabilitas, kelarutan, dan penyerapan untuk meningkatkan kemanjuran dan efek pengobatan. Peningkatan kemanjuran dan efek pengobatan dari formulasi nano partikel asal bahan alam ditunjukkan dari formulasi nanopartikel ekstrak buah juwet (Syzygium cumini) sebagai antimalaria pada hewan model.

Pada infeksi malaria, respons imun penderita memainkan peran penting dalam tingkat keparahan dari infeksi malaria sehingga penggunaan terapi adjuvan untuk meningkatkan hasil klinis. Namun, adjuvan digunakan bersama dengan obat antimalaria primer. Tujuan untuk meningkatkan kemanjuran, mengurangi komplikasi terkait dengan penyakit dengan intervensi tunggal untuk menargetkan beberapa jalur yang terlibat dalam proses patobiologi.

Terapi adjuvan harus dapat menurunkan kematian dan mencegah kerusakan sistem saraf. Terapi adjuvan yang efektif harus aman, manfaat jelas jika dibandingkan dengan penggunaan antimalaria saja, efektif sebagai intervensi tahap akhir, tidak invasif, murah, ideal, dan layak untuk diterapkan di daerah endemik malaria berat yang sangat tinggi dengan sumber daya rendah. Terapi adjuvan yang mudah didapatkan dari bahan alam untuk memodifikasi jalur patofisiologis dengan aktivitas sebagai antioksidan untuk menurunkan stres oksidatif, immunomodulation untuk meningkatkan respons imun penderita atau efek suportif.

Penggunaan terapi adjuvan dalam menurunkan tingkat kematian akibat malaria mempunyai prospek dalam penatalaksanaan pengobatan malaria karena mampu memperbaiki kelainan fisiologis yang terjadi. Beberapa hasil penelitian pada hewan model malaria, pemberian terapi adjuvan menunjukkan perbaikan pada infeksi malaria.

Penggunaan ekstrak juwet dengan klorokuin dapat meningkatkan bersihan parasit dan perpanjangan kekambuhan kembali, memperbaiki gambaran darah, menurunkan indeks limpa, dan memperbaiki kerusakan organ hati, ginjal, paru, dan otak pada hewan model malaria. Pengembangan formulasi nano partikel ekstrak daun dan buah juwet (Syzygium cumini) mampu meningkatkan kemanjuran dan efek terapi. Penelitian terapi adjuvan sebagai model terapi pada malaria masih sangat terbuka dan mempunyai prospek untuk dikembangkan.

 


admin

Leave a Reply

Your email address will not be published.