NATO Anggap Referendum Bagian Ukraina Untuk Bergabung Dengan Rusia Sebagai Dagelan Vladimir Putin | 31left

TRIBUNNEWS.COM – Rencana Republik Rakyat Luhansk (LPR) dan Republik Rakyat Donetsk (DPR) untuk melakukan referendum bergabung dengan Rusia tidak diakui oleh NATO.

Pakta Pertahanan Atlantik Utara atau NATO yang sejak awal menyokong Ukraina melawan invasi Rusia menganggap, referendum LPR dan DPR hanya dagelannya Vladimir Putin.

Dua negara yang menglaim telah merdeka dari Ukraina tersebut akan melakukan referendum untuk bergabung dengan Rusia pada akhir pekan ini.

Sekjen NATO Jens Stoltenberg mengklaim suara “palsu” tidak memiliki legitimasi dan menyerukan lebih banyak dukungan untuk Ukraina.

Baca juga: UPDATE Perang Rusia-Ukraina Hari ke-210: Donetsk, Luhansk, Kherson, Zaporizhzhia Bentuk Referendum

Ia menyebut jajak pendapat tersebut adalah palsu dan hanya akan mengumpulkan suara tidak sah.

“Referendum palsu tidak memiliki legitimasi dan tidak mengubah sifat perang agresi Rusia terhadap Ukraina,” kata Stoltenberg di Twitter, pada Selasa (20/9/2022).

“Masyarakat internasional harus mengutuk pelanggaran terang-terangan terhadap hukum internasional ini dan meningkatkan dukungan untuk Ukraina,” tambah Stoltenberg.

LPR dan DPR akan mengadakan pemungutan suara untuk penyatuan dengan Rusia pada 23-27 September, kata para pemimpin mereka pada Selasa pagi.

Wilayah yang dikuasai Rusia di wilayah tetangga Zaporozhye dan Kherson juga akan memilih mulai Jumat.

Penasihat keamanan nasional AS Jake Sullivan menggemakan kecaman Stoltenberg pada konferensi pers Gedung Putih pada hari Selasa, menyebut referendum itu “penghinaan terhadap prinsip-prinsip kedaulatan dan integritas teritorial.”

“Kami tidak akan pernah mengakui wilayah ini sebagai apa pun selain bagian dari Ukraina,” tambah Sullivan.

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published.