Pelestarian Budaya Lokal Dapat Dilakukan dengan Memanfaatkan Beragam Platform Digital | 31left

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Muhammad Zulfikar

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Beragam platform digital bisa dimanfaatkan untuk mempromosikan keunikan budaya lokal Indonesia. 

Selain mengenalkan budaya lokal ke kancah global, promosi secara digital dapat menumbuhkan kecintaan kepada ragam budaya Tanah Air. Dibutuhkan kecakapan digital untuk mempromosikan budaya lokal di dunia maya. 

Baca juga: Presiden Jokowi Luncurkan Platform Digital Jagat Nusantara

Hal itu mengemuka dalam webinar yang mengambil tema “Globalkan Budaya Lokal: Yuk Ngonten Tentang Indonesia!”, Rabu (16/11/2022) yang diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika RI bersama Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) Siberkreasi. 

Narasumber dalam webinar ini adalah Relawan Mafindo Yogyakarta Fununun Nisha; Manajer Ceritasantri Ainatu Masrurin; dan dosen STAIPA Sunan Pandanaran Yogyakarta Ahmad Wahyu Sudrajad.

Digitalisasi budaya, menurut Aina Masrurin, amat memungkinkan dalam pendokumentasian budaya asli Indonesia. Selain itu, digitalisasi budaya juga bisa menjadi peluang baru dalam mengasah kreativitas.

Apalagi, saat ini begitu banyak platform media digital yang bisa diperoleh secara gratis, seperti YouTube, TikTok, atau Instagram.

“Untuk promosi budaya lokal dengan memanfaatkan ruang digital, bisa dilakukan lewat pertunjukan secara daring di YouTube, Facebook, maupun Instagram. Masing-masing platform tersebut memiliki kelebihan dan kekurangan,” kata Aina.

Namun, lanjut Aina, promosi budaya lokal juga bisa dilakukan secara luring. Misalnya, pertunjukan budaya di gedung pertunjukan, kantor, sekolah, kampus, obyek wisata, atau di lokasi-lokasi yang menjadi pusat kegiatan masyarakat. 

Hanya saja, jangkauan pertunjukan luring ini terbatas dibandingkan dengan pemanfaatan media digital. Aina menambahkan, tujuan promosi budaya lokal beberapa di antaranya adalah untuk pemberitahuan atau pengenalan budaya tersebut, membuka peluang kerja sama, mengundang penonton, menjual tiket pertunjukan, dan lain sebagainya. Dibutuhkan keselarasan jenis konten dan segmentasi penonton dalam promosi budaya lokal tersebut.

Dalam mempromosikan budaya lokal di ranah digital, menurut Fununun Nisha, dibutuhkan kecakapan mengenai keamanan digital. Kecakapan ini diperlukan agar produk promosi budaya lokal terhindar dari pembajakan atau plagiasi. Pasalnya, kecanggihan teknologi digital saat ini memudahkan siapa saja untuk menjiplak karya orang lain di ruang digital.

“Caranya adalah bisa dilakukan lewat pemasangan watermark pada karya digital kita. Atau bisa juga mendaftarkan karya ke HAKI Kementerian Hukum dan HAM, serta gunakan fitur keamanan di media sosial,” kata Nisha.

Nisha melanjutkan, selain cakap mengenai keamanan digital, setiap individu sebaiknya memiliki pemahaman untuk saling menghargai karya cipta milik orang lain, baik itu yang di ruang digital sekalipun. 

Sementara itu, Ahmad Wahyu menuturkan, tantangan budaya digital di era sekarang ini adalah menipisnya wawasan kebangsaan, longgarnya sopan santun, dan mulai menghilangnya budaya asli Indonesia akibat serbuan budaya asing. 

Oleh karena itu, kata dia, mempromosikan konten budaya lokal Indonesia patut digalakkan, khususnya lewat media digital.

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *