Penghuni Gaib Istana-Istana Kepresidenan | 31left

UNTUK melengkapi pengetahuan pembaca Harian Media Indonesia mengenai salah satu sisi dari istana-istana kepresidenan RI yang ada sekaligus melengkapi artikel Mengunjungi Istana Kepresidenan Tampaksiring di kolom jelajah budaya (13/6), penulis ingin bercerita tentang adanya penghuni-penghuni gaib yang menjaga keberadaan istana-istana kepresidenan di Indonesia. Untuk diketahui, istana-istana tersebut berlokasi di Jakarta, Bogor, Cipanas, Yogyakarta, dan Bali.

Di Jakarta, terdapat dua istana yaitu Istana Merdeka dan Istana Negara. Kalangan awam sering salah pengertian mengira kedua istana tadi merupakan sebuah istana yang diberi nama Bung Karno, Istana Merdeka. Istana Merdeka di era kolonialisme Belanda disebut sebagai Istana Koningsplein, sedangkan Istana Negara dahulunya disebut sebagai Istana Rijswijk. Dari penuturan para karyawan yang berpuluh tahun sudah bekerja, sejak zaman Hindia Belanda dipercaya bahwa di kedua istana tadi ada ‘penghuni gaib’ yang tugasnya menjaga kelestarian istana-Istana tadi.

Menurut penuturan mereka, pada malam hari, pelayan yang bertugas jaga malam tidur di ruangan aula (hall) tengah Istana Merdeka di atas bentangan karpet dilindungi kelambu yang ujung-ujungnya diikat pada empat kursi untuk menghindari nyamuk. Menjelang Subuh, ia ‘dibangunkan’ oleh sentuhan tangan yang tidak tampak secara terus-menerus menggoyang-goyangkan tubuh pelayan tadi hingga terbangun. Tak lama kemudian azan Subuh berkumandang. Penulis antara percaya dan tidak percaya mendengar cerita tersebut. Menurut penulis, bisa saja hal tersebut terjadi karena yang bersangkutan bermimpi.

Selain itu, para pelayan memberitahu penulis agar saat buang air kecil harus dilakukan di kamar mandi atau toilet yang tersedia di kawasan bangunan. Bila kita lakukan di sembarang tempat, terutama seperti di pohon-pohon besar di taman istana, otomatis pada malam harinya akan terserang demam tinggi, panas dingin selama beberapa hari. Jadi, bila kita sudah ingin sekali berhajat kecil dan terpaksa dilakukan di bawah pohon besar, misalnya pohon mahoni, kihujan, dan lain sebagainya, harus berucap dahulu assalamu‘alaikum mbah, abdi teh bade kiih pangapunten mbah. Anehnya, Bung Karno yang selalu berhajat kecil di semak-semak rimbun dari pohon ampelas-ampelasan dekat teras belakang Istana Merdeka tak pernah terjadi hal-hal aneh tersebut.

 

Kejadian di Istana Bogor

Di Istana Bogor, di era Bung Karno dibangun beberapa paviliun di halaman samping untuk tempat tinggal Ibu Hartini beserta putra putrinya sekaligus tempat Bung Karno tinggal bila berkunjung ke Istana Bogor. Bung Karno juga membangun rumah sederhana di samping pintu masuk pintu utama yang diberi nama Banyu Rini. Di situ tempat Bung Karno mencari ilham serta salat Istikharah bila menghadapi momen-momen yang penting, khususnya menulis konsep pidato kenegaraan 17 Agustus yang akan dibacakan di beranda muka Istana Merdeka.

Kejadian aneh yang terjadi di Istana Bogor menurut penuturan para pelayan dan petugas dari Detasemen Kawal Pribadi (DKP). Setiap malam Jumat Kliwon di teras kubah atas istana (tempat tiang bendera) kerap kali terdengar suara gaduh seolah-olah ada yang melakukan kenduri. Di pagi harinya, para pelayan yang segera naik ke atas selalu menemukan tusukan-tusukan sate bertebaran di sana. Namun, selama penulis menginap di Istana Bogor, tidak pernah menemukan hal-hal yang aneh di situ.

Bung Karno yang mendapatkan laporan-laporan mengenai hal-hal tersebut hanya melarang memberikan sesajen di lokasi tersebut. Penulis yang tidak percaya kepada hal-hal yang bersifat metafisika, bila menanyakan hal tersebut kepada Bung Karno, kemudian diajak ke ruangan perpustakaan pribadinya. Di sana disodori buku berisi pidato Bung Karno mengenai masalah tauhid yang intinya kita harus meyakini keesaan Allah SWT dengan sifat-Nya yang robbul alamin seru sekalian alam. Semua yang ada di alam semesta ini ialah ciptaan Tuhan Yang Maha Esa, termasuk makhluk gaib yang ada di Istana Bogor, jadi tidak perlu di usik-usik.

Banyu Rini saat ini menjadi tempat tinggal Presiden Jokowi sekeluarga. Waktu baru terpilih sebagai Presiden RI, beliau pernah mencoba tidur di kamar Bung Karno di Istana Merdeka. Jokowi mengaku semalaman tidak dapat tidur sekejap pun karena udaranya terasa panas, padahal sepengetahuan penulis, kamar tersebut dilengkapi dengan pendingin udara.

Di Istana Kepresidenan Cipanas-Sindanglaya yang dibangun pada abad ke-18 sebagai tempat tetirah gubernur jenderal Belanda memang sangat nyaman untuk dihuni. Bagi penulis beserta keluarga, istana tersebut menjadi favorit untuk tempat berlibur. Setelah Bung Karno didongkel dari kursi kepresidenan di era Orde Baru, penulis tetap diizinkan menginap, tetapi di Paviliun Yudistira tempat petinggi negara dan tamu luar negeri setingkat menteri menginap.

Paviliun tersebut terdiri atas empat kamar utama dan beberapa kamar biasa. Di kawasan istana terdapat fasilitas pemandian air panas (air belerang), pemandian air dingin yang airnya diambil dari mata air pegunungan, sungai air jernih yang membelah kawasan tempat kita dapat mandi di sungai atau memancing ikan atau belut.

Di Istana Cipanas, Bung Karno membangun sebuah bangunan kecil yang diberi nama Gedung Bentol karena dindingnya dihiasi batu-batu kali yang tampak bentol-bentol pada dinding bangunan. Tempat tersebut mirip dengan Banyu Rini sebagai lokasi kontemplasi. Pemandangan keluarnya sangat indah karena ada panorama hamparan sawah hutan bambu dan Gunung Gede. Bung Karno pernah berdiskusi dengan Presiden Vietnam Utara Ho Chi Minh di situ.

Menurut Abah Endjam, seorang karyawan sepuh yang mengurusi pemandian air dingin, penjaga seluruh kawasan Istana Cipanas berupa seekor macan berkaki tiga yang wujudnya sekali-sekali muncul di hadapan seseorang yang dianggap berilmu tinggi. Di Istana Cipanas terdapat juga kandang kuda yang dihuni lebih kurang tujuh kuda yang dapat kita tunggangi keliling istana. Di era Bung Karno, fasilitas penginapan di sana ditambah dengan dibangunnya dua paviliun baru yang diberi nama Nakula dan Sadewa. Jadi, paviliun yang ada di Istana Cipanas ialah Yudistira, Bima, Arjuna, Nakula, dan Sadewa.

Di Istana Yogyakarta (Gedung Agung), sejauh yang penulis ketahui, tidak pernah ada cerita-cerita mengenai penjaga dari dunia gaib. Di Istana Tampaksiring di Pulau Dewata, tidak ada hal gaib yang terjadi kecuali kamar tidur Bung Karno saat ini dijadikan semacam kamar kramat yang tidak sembarang orang boleh memasukinya.

Sebelum istana tersebut dibangun Bung Karno, dahulunya merupakan sebuah bangunan pesanggrahan sederhana milik Bali Hotel Denpasar. Setelah diambil alih pemerintah, Bung Karno kemudian menginstruksikan agar dibangun istana megah seperti yang kita kenal saat ini. Menurut penuturan para pelayan bahkan pengawal-pengawal dari DKP, bila malam musim kemarau, dipenuhi ribuan kunang-kunang dan penampakan makhluk gaib yang disebut leak (makhluk menyerupai manusia, tetapi wajahnya terbalik menghadap ke belakang dan dari mulutnya selalu mengeluarkan semburan semburan api).

 

Tirta Empul

Di bawah Istana Tampaksiring terdapat sebuah kolam yang airnya berasal dari mata air suci Tirta Empul yang berabad-abad tidak pernah surut. Sejak era Bung Karno sudah menjadi kawasan wisata domestik dan mancanegara. Selain keindahan semburan mata air, di kolam tersebut juga terdapat ikan-ikan belut raksasa yang hanya timbul dan muncul dari pinggiran kolam bila diberi makan anak tawon lebah madu dan dibacakan mantra-mantra oleh seorang pedanda.

Bila ikan-ikan tersebut muncul, penulis dan keluarga dapat memberikan makanan pada makhluk-makhluk tadi yang tampaknya sangat jinak sekali. Demikian sekilas penjelasan tambahan tentang istana-istana kepresidenan. Terkait hal-hal gaib, silakan percaya atau tidak memercayai.


admin

Leave a Reply

Your email address will not be published.