Pesta Kuliner Pasar Seni Payakumbuh Dorong Ketahanan Pangan Nasional Lewat Pameran | 31left

Laporan Wartawan Tribunnews, Choirul Arifin 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Untuk pertama kalinya kegiatan pameran kuliner Pasar Seni Payakumbuh (PSP) diselenggarakan selama tiga hari di Pelataran Ngalau Indah, Payakumbuh, Sumatera Barat, 13-15 Junin2022. 

Kegiatan yang diselenggarakan UPTD Taman Budaya di bawah Dinas Kebudayaan Sumatera Barat dengan dukungan penuh DPRD Sumatera Barat ini menampilkan pameran kuliner dari seluruh kabupaten dan kota di Sumatra Barat dan menampilkan kekayaan kuliner Sumatera Barat yang melegenda. 

Banyak di antaranya yang tidak mudah ditemukan lagi di pusat jajanan dan kuliner seperti pongek Limbonang, bungo durian, rubik, dan lain-lain.

Baca juga: Beef Culture Jadi Tren Gaya Hidup, Profesi Butcher Makin Dilirik di Industri Kuliner

Event ini juga menampilkan kuliner kreasi seperti randang jaguang Makranin, crispy rinuak, kopi Amai, dan sebagainya serta berbagai pertunjukan seni tradisional dan kontemporer yang terkait dengan budaya pangan di Minangkabau. 

Salah satu konten acara yang sangat diminati pengunjung sembari menikmati ragam kuliner adalah duel puisi dari dua penyair maestro Indonesia Iyut Fitra dari Payakumbuh dan Irmansyah dari Kabupaten Agam. 

Agenda ini dikuratori oleh S Metron Masdison yang dikenal sebagai penulis dan sutradara seni pertunjukan bersama Buya Zuhari Abdullah (penulis/pemuka agama/pakar silat Minangkabau), dan Heru Joni Putra (penulis dan peneliti budaya. 

“Di penyelenggaraan kegiatan ini kita tidak fokus pada kuliner saja, melainkan budaya pangan (food culture). Bila bicara soal budaya pangan, maka kita mesti melihat kaitan erat antara kuliner, kearifan lokal, kesenian, dan keesaan Tuhan. Hubungan antar aspek ini harus selalu dijaga. Itulah makna dari kemandirian pangan yang kita representasikan dalam acara ini,” ujar Metron. 

Buya Zuhari Abdullah menambahkan kegiatan ini tidak hanya ditujukan untuk publik Sumatra Barat dan Indonesia, melainkan juga dunia.

Baca juga: Fadli Zon: Kalau Ada Usaha Kuliner Nasi Padang Gunakan Daging Babi, Jelas Melukai Orang Minang

“Catatan penting dari agenda ini akan kita kirimkan ke agenda internasional G20 di Bali tahun ini. Kita ingin menunjukkan kontribusi dari budaya Minangkabau untuk menjawab persoalan pangan di masa depan. Yang jelas, di Minangkabau, kearifan lokal dalam hidup berkomunal menjadi kunci untuk ketahanan pangan. Mulai dari cara masyarakat memperlakukan bumi, mengolah sawah-ladang, hingga membagi hasil panen, mengandung sekumpulan kearifan yang mendorong terjadinya ketahanan pangan,” ujarnya. 
 
Dimulai dengan FGD 

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published.