Tanda Mata untuk Mona Lohanda | 31left

MEMBUKA dan membaca lembarlembar arsip jelas butuh ketekunan dan ketelitian. Pekerjaan itu hanya mungkin ditekuni mereka yang betul-betul gandrung pada dokumen sejarah. Itu pun tidak banyak yang melakukannya, termasuk dari kalangan sejarawan. Dari sedikit orang itu, nama Mona Lohanda terselip di antaranya. Hampir lebih dari separuh hidupnya dihabiskan untuk meneliti arsip, terutama yang berasal dari zaman VOC.

Jejak keilmuwan Mona yang meluas ke berbagai bidang, terutama sejarah dan kearsipan, merentang hampir setengah abad sejak ia lulus dari Jurusan Sejarah Fakultas Sastra Universitas Indonesia, atau sepanjang kurun 1972-2012).

Narasi sejarah Indonesia yang menjelaskan keragaman etnik, terutama Tionghoa, tidak terlepas dari keberadaan hasil studi dan arsip yang ditekuninya. Ia menjadi figur terkemuka dan mungkin langka dalam studi tentang masyarakat Tionghoa, juga arsip-arsip VOC maupun kolonial Hindia Belanda. Dari penelusurannya terhadap arsip kolonial inilah lahir sejumlah studi penting seperti The Kapitan Cina of Batavia 1837-1942: A History of Chinese Establishment in Colonial Society (1996), serta Growing Pains: The Chinese and The Dutch in Colonial Java, 1870- 1942, yang terbit pada 2002.

Meski bekerja dalam sunyi di antara tumpukan buku dan dokumen, Mona pribadi yang luwes. Pergaulannya luas dengan berbagai kalangan intelektual, baik dalam maupun luar negeri. Peter Carey, sejarawan asal Inggris yang juga rekan sejawatnya menyebut Mona sebagai penjaga gerbang arsip nasional Indonesia yang rendah hati.

‘Ia pribadi fenomenal yang jarang ditemukan di dunia sejara wan dan arsiparis Indonesia. Ia memiliki integritas luar biasa di bidangnya’, tulis Carey.

Carey menjadi salah satu penulis yang menuangkan kenangannya untuk Mona yang wafat pada 16 Januari 2021. Untuk menghormati kiprah Mona selaku arsiparis, sejumlah rekannya menggagas sebuah buku antologi berjudul Arsip & Sejarah.

Selain Carey, mereka yang menyumbang tulisan di buku setebal lebih dari 350 halaman ini, di antaranya Aiko Kurasawa, Andi Achdian, Annabel Teh Gailop, Eka Budianta, M Fauzi, Restu Gunawan, Tri Wahyuning, Wilson, serta sejarawan muda Yerry Gunawan. Ada pula Lina Lohanda, keponakan almarhumah yang menuliskan kesan mengenai tantenya itu. “Ci Mona mungkin satu-satunya di keluarga kami yang bekerja di lembaga pemerintahan,” kata Lina (hlm x).

Selama meniti karier sebagai arsiparis di Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) sepanjang 40 tahun, Mona telah menjadi penjaga gerbang menuju catatan-catatan perusahan dagang Hindia Belanda (VOC) di Batavia. Perannya sebagai Deputi Pembinaan Kearsipan di ANRI antara September 2005-Desember 2007, telah menjadi kunci keberhasilan proyek TANAP (Towards A New Age of Partnership, 1999-2007), sebuah kerja sama besar- besaran antara Arsip Nasional Belanda di Den Haag, Universitas Leiden, dan ANRI.

Proyek ini bertujuan melatih para peneliti muda dan kurator arsip untuk menggunakan sumber VOC dari abad ke-17 dan 18. Di sini posisi Mona menjadi kunci penting yang memungkinkan pembukaan koleksi terbesar dokumen VOC, yang berisi kumpulan arsip sekitar 2 kilometer, memuat puluhan juta dokumen. Menurut penuturan Carey, kumpulan dokumen yang disimpan di ANRI Jakarta itu ialah koleksi arsip VOC terbesar di dunia. Kini, satu juta di antaranya dapat diakses secara daring melalui situs yang didirikan kepala proyek tersebut Dr Pieter Koenders dari Universitas Leiden (http://www. tanap.net/). “Proyek TANAP tidak akan sesukses sekarang tanpa peran Mona,” ujar Carey.

Buku Arsip & Sejarah yang diterbitkan untuk mengenang kiprah almarhumah Mona Lohanda rasanya memang belum sebanding atas jasa dan peran dia sebagai sejarawan sekaligus arsiparis. Namun, paling tidak buku ini bisa menjadi pengingat warisan keilmuwan beliau yang banyak dirasakan manfaatnya oleh berbagai kalangan intelektual, tidak hanya sejarawan, tetapi juga berbagai bidang ilmu lainnya.

Jejak ini memberi dampak pada para peneliti tentang pentingnya arsip dalam studi sejarah. Ia juga melihat pentingnya studi tentang masyarakat Tionghoa dalam historiografi Indonesia dan menempatkannya dalam bingkai keindonesiaan. Kajian Mona tentang masyarakat Tionghoa pada masa kolonial memberi pesan penting tentang posisi dan kontribusi mereka dalam sejarah Indonesia dan keragaman budaya.

Kepergian Mona tidak hanya meninggalkan duka mendalam, tetapi juga meninggalkan pekerjaan rumah bagi komunitas sejarawan dan arsiparis tentang pentingnya sejarah dan arsip untuk menjelaskan sejarah masyarakat Indonesia atau siapa kita pada hari ini. (Dio/M-2)

 

Judul buku

Arsip dan Sejarah Mengenang Mona Lohanda

Penerbit

Pustaka Pias, Bandung 2022

Penulis

Peter Carey dkk

Penyunting

Diana Trisnawati, Yerry Wirawan, M Fauzi, Andi Achdian, Wilson

Jumlah halaman: 343 hlm

 


admin

Leave a Reply

Your email address will not be published.