Terus Mendaki meski Kehilangan Kaki | 31left

KEHILANGAN salah satu kaki tentunya bisa membuat orang terpuruk. Kalaupun berhasil bangkit, mungkin jarang penyandang difabel yang lalu menjalani profesi yang menantang fisik, terlebih lagi fisik dan nyali.

Namun, itulah yang dilakoni Sabar Gorky. Kehilangan salah satu kaki tidak menyurutkan hobinya mendaki gunung, bahkan sejumlah gunung top dunia, dan menjalani profesi sebagai pembersih gedung bertingkat. Hadir dalam Kick Andy episode Maut Dibalik Profesi yang tayang pukul 21.05 WIB, Sabar mengungkapkan kecelakaan kereta api yang merenggut kakinya.

“Kaki saya hilang karena jatuh dari kereta api pada 1990. Kepleset lalu kegilas roda kereta. Waktu itu sudah memang enggak bisa disambung lagi. Saya waktu itu sudah hobi naik gunung, kami mencoba untuk di gunung yang lain, bukan di Jawa Tengah, tapi di Jawa Barat. Akhirnya sepulang dari Gunung Gede mungkin kehendak dari Yang Mahakuasa begini,” kata Sabar yang saat kejadian itu berusia 22 tahun.

Sempat merasa putus harapan beberapa bulan, pria asal Solo, Jawa Tengah, itu membulatkan semangat bangkit dengan melanjutkan hobi mendaki gunung. Awalnya, ia hanya bisa mencapai beberapa pos pendakian.

Setelah beberapa kali pendakian, barulah ia mencapai puncak dan kemudian malah berturut bisa menaklukkan Gung Lawu, Merapi, Merbabu, Semeru, hingga Rinjani. Pencapaiannya kian jauh dengan menaklukkan tiga gunung dari tujuh puncak dunia yang dikenal sebagai Seven Summit, yakni Jayawijaya (Carstensz-Papua), Gunung Elbrus (Rusia), dan Gunung Kilimanjaro (Tanzania), Sabar juga sudah mendaki Aconcagua (Argentina), tapi gagal mencapai puncak karena kondisi cuaca.

Pandakian ke Elbrus pada 2011 pula yang membuatnya mendapat julukan Gorky dari Duta Besar Rusia saat itu, Hamid Awaluddin. Gorky dalam bahasa Rusia berarti pahit atau hidup yang pahit. Julukan Gorky telah terkenal disematkan pada pujangga besar Alexei Maximovich Peshkov karena hidupnya yang berliku.

Sementara itu, Sabar dijuluki Gorky karena kondisinya yang lebam-lebam setelah mendaki. Meski begitu, itu bukanlah ejekan, melainkan pujian atas ketangguhannya. Prestasi Sabar kala itu merupakan yang pertama bagi pendaki tunadaksa Asia dan sekaligus kado kemerdekaan RI ke-66.

 

Pembersih gedung

Profesi pembersih kaca gedung dimulai Sabar pada 1999. Pria yang juga merupakan atlet panjat tebing itu mendapat panggilan untuk pembersihan kaca gedung Wisma Lippo Solo dengan teknik rope acces (dengan bantuan tali).

Metode itu ialah modifikasi dari olahraga panjat tebing dan caving (susur gua) serta peralatannya disesuaikan untuk pembersihan gedung. Kelebihan dari teknik rope access, yaitu aman, fleksibel, tidak mengganggu aktivitas bekerja, serta dapat menjangkau di tempat-tempat atau celah yang sulit.

Bayaran Sabar bergantung pada luasan gedung. Namun, panggilan untuk pembersihan gedung tidak menentu, terkadang baru berulang per 6 bulan, per 1 tahun sekali, atau bahkan 5 sampai 10 tahun.

Tidak hanya membersihkan gedung, pria berusia 54 tahun itu pernah dimintai jasa untuk memasang banner baliho di pinggir jalan raya, pembuatan kereta gantung gir pasang di Merapi pada 2019, dan memasang lampu hotel di Hanok, Kamboja. Sabar mensyukurinya dan memandangnya sebagai kebanggaan. “Saya bersyukur ada negara yang membutuhkan saya, saya diundang ke Kamboja untuk pemasangan lampu,” tutur lelaki yang juga mempunyai usaha warung kopi Gorky di Kota Solo itu.

Di balik pekerjaan itu, Sabar ingin agar masyarakat tidak memandang sebelah mata para difabel. Dia juga mengajak para difabel untuk terus bersemangat dan terus berkarya. “Untuk sahabat-sahabat saya baik yang difabel maupun yang enggak difabel, semua yang punya problem, hadapi masalah itu, kita selesaikan. Di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin, semuanya diri kita sendiri yang bisa bangkit menunjukkan bahwa kita mampu,” pungkasnya.


Leave A Reply

Your email address will not be published.