Tren Digitalisasi, Kebutuhan Ahli IT Jadi Tantangan Dunia Bisnis di Masa Depan | 31left

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Reynas Abdila

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Tren digitalisasi yang melaju kencang di berbagai sektor termasuk dunia bisnis membuat Indonesia menghadapi kebutuhan tenaga ahli di bidang teknologi informasi (IT).

Tenaga baru di bidang IT yang berhasil dicetak perguruan tinggi masih belum sepenuhnya memenuhi kebutuhan tersebut.

Menjawab tantangan tersebut, Refocus Digital Academy hadir di Indonesia sebagai platform pendidikan online yang berfokus untuk mengubah seseorang menjadi profesional dalam industri digital.

Baca juga: Kemenkominfo Genjot Peningkatan Literasi Digital ke Palajar dan Guru

Tim Refocus mengajarkan profesi digital kepada orang-orang, dimana bidang ini sedang diminati pasar dan akan berlangsung dalam jangka waktu lama. 

CEO & Founder Refocus Education Project Roman Kumay Vyas mengatakan Indonesia memiliki lebih dari 17 ribu pulau, kondisi geografi Indonesia menentukan pengembangan IT serta aksesibilitas layanan dan teknologi. 

“Kami memperkirakan 40 persen dari pertumbuhan lowongan pekerjaan dalam dua tahun ke depan akan menghasilkan kebutuhan rekrutmen yang sangat besar di pasar,” kata Roman, Jumat (23/9/2022).

“Kami ingin orang-orang untuk memiliki kesempatan edukasi yang baik serta keterampilan yang terpakai sehingga memungkinkan mereka mendapat penghasilan yang lebih besar, terus bertumbuh dan mengembangkan berbagai produk untuk mencapai tujuan mereka,” sambungnya.

Berdasarkan catatan Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker), kebutuhan tenaga kerja di TIK diperkirakan bakal terus meningkatkan sejak 2022 hingga 2025. 

Proyeksi kebutuhannya pada tahun ini sebanyak 1,23 juta orang. Jumlahnya diperkirakan naik 21,4 persen menjadi sebanyak 1,49 juta orang pada 2023.

Baca juga: Siaran TV Digital di Jabodetabek, Distribusi STB Gratis Sudah 63 Persen

Meski demikian, jumlah tenaga ahli di bidang IT di tanah air masih jauh dari permintaan, baik dari kualitas maupun kuantitas. 

Menurut riset McKinsey, Indonesia membutuhkan 9 juta profesional digital selama periode 2015 – 2030. 

Artinya, Indonesia harus dapat melahirkan 600.000 lulusan digital secara rata – rata setiap tahunnya.

Dari kebutuhan tersebut, perguruan tinggi di Indonesia hanya mampu memenuhi sekitar 100.000 – 200.000 lulusan digital, yang berarti ada kesenjangan sekitar 400.000 – 500.000 lulus digital. 

Kekurangan tersebut berpotensi menghambat proses transformasi digital perusahaan di berbagai industri, termasuk perbankan.

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published.