Tren Quiet Quitting, Benarkah Bikin Pekerja Lebih Bahagia? | 31left

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Rina Ayu

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA –– Tren quiet quitting baru-baru ini menjadi topik yang marak diperbincangkan. Perilaku yang membatasi diri untuk tidak melakukan hal-hal yang lebih di tempat kerja ini, digadang-gadang menjadi tren baru yang diminati oleh gen Z dan milenial.

Dosen Fakultas Psikologi (FPsi) Universitas Airlangga (UNAIR), Reza Lidia Sari SPsi MSi menjelaskan quiet quitting adalah respons perlawanan dari hustle culture yang menganggap pentingnya dedikasi yang amat tinggi pada pekerjaan.

“Perilaku ini berkebalikan dengan extra-role behavior dimana seseorang berkenan mengerjakan pekerjaan diluar job desc-nya demi kelancaran sistem organisasi,” jelasnya dikutip dari laman unair.ac.id, Sabtu (17/9/2022).

Menyikapi fenomena ini Dosen mata kuliah Psikologi Organisasi dan Industri menyebutkan, quiet quitting bukanlah perilaku yang sepenuhnya baik maupun buruk.

“Masing-masing perilaku memiliki kelebihan dan kekurangannya,” sebutnya.

Misalnya work life balance dan mengatasi burn out.

Saat membatasi pekerjaan sesuai dengan porsinya, seseorang dianggap dapat menciptakan kondisi work-life balance. Kondisi ini membatasi antara dunia kerja dan dunia non kerja yang menjadi situasi idaman bagi kebanyakan gen Z dan Milenial.

“Selain itu, tren ini dianggap sebagai hal yang positif karena dapat secara efisien memaksimalkan jam kerja tanpa harus lembur,” lanjutnya.

Baca juga: Arti Quiet Quitting, Tren Kerja di Tengah Budaya Hustle Culture dan Manfaatnya untuk Mental

Quiet quitting juga menjadi salah satu mekanisme koping untuk mencegah overwork.

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published.