Waisak, Momentum Introspeksi Diri | 31left

HARI raya Waisak merupakan sebuah momentum untuk semakin mendalami makna perjuangan Buddha Sakyamuni dalam menghayati darma dan meneladaninya dalam sikap hidup kita sehari-hari. Tiga peristiwa penting yang menjadi dasar Peringatan Hari Waisak ialah kelahiran Siddharta Gautama, pencapaian kesadaran Buddha beliau di usia 30 tahun dan dikenal sebagai Buddha Sakyamuni (arif bijaksana/yang sadar dari suku Sakya), lalu membabarkan darma selama 50 tahun, dan moksya/wafatnya Buddha Sakyamuni (parinirvana).

Tujuan kelahiran Buddha sejatinya untuk menunjukkan jalan darma (hukum, aturan, dan kebenaran hakiki alam semesta) yang berisi nilai-nilai universal (karma/hasil perbuatan, sebab akibat, maitri karuna, welas asih, keseimbangan/moderat), falsafah kehidupan yang mendalam, menuju kebahagiaan sejati, yaitu untuk menjadi manusia yang sadar sempurna/seutuhnya (Buddha). Mampu memberikan manfaat, kegembiraan nyata untuk lingkungan sekitar di mana pun ia berada.

Kesadaran Buddha secara inheren dan laten sudah ada di dalam diri semua umat manusia, hanya perlu dimunculkan dan dipelihara saja. Cara untuk memunculkan kesadaran Buddha itu ialah dengan menghayati dan mengamalkan darma di dalam diri dan kehidupan sehari-hari.

Dengan tema Waisak Nasional 2566BE/ 2022 Moderasi beragama untuk Indonesia bahagia, umat Buddha bersama-sama ingin mengembalikan sikap beragama ke jalan darma sejati, menjadikan darma sebagai tuntunan dalam menyusuri jalan kehidupan untuk mencapai kebahagiaan sejati (mencapai kesadaran Buddha), menebar welas asih, dan maitri karuna kepada semua makhluk hidup. Itu karena tidak akan ada kebahagiaan diri tanpa membahagiakan orang lain. Karena itu, ungkapan ‘semoga semua makhluk hidup berbahagia’ serta ‘aku ingin manunggal dengan alam semesta’ merupakan ketekadan hati dari umat Buddha yang seyogianya ada di dalam setiap napas kehidupan di alam semesta ini.

Sebelum umat Buddha, kita ketahui saudara-saudara kita umat beragama lain sudah memperingati hari keagamaannya secara baik, sederhana, dan tertib. Pada 3 Maret, Nyepi (Hindu), 17 April, Paskah (Kristiani), dan 2 Mei, Idul Fitri (Muslim) sehingga tidak terjadi lonjakan kasus covid-19 setelahnya. Pelaksanaan kegiatan-kegiatan keagamaan itu berjalan lancar, menandakan kedewasaan sikap beragama bangsa Indonesia, wujud nyata dari moderasi beragama, cara pandang dalam beragama secara moderat, yakni memahami dan mengamalkan ajaran agama dengan tidak ekstrem, baik ekstrem kanan (pemahaman agama yang sangat kaku) maupun ekstrem kiri (pemahaman agama yang sangat liberal).

Memang sempat terjadi percikan konflik di daerah Dusun Ganjar, Desa Mareje, Kabupaten Lombok Barat, NTB, yaitu pembakaran rumah warga (beragama Buddha) karena menegur pemuda (beragama Islam) yang meledakkan petasan di kandang sapi milik pemuda Buddha itu pada saat malam takbiran, 1 Mei 2022, yang melebar ke pembakaran beberapa rumah lainnya. Namun, akhirnya dapat diselesaikan secara damai dan kekeluargaan. Permasalahan itu tidak ada kaitannya dengan agama dan jangan dikait-kaitkan dengan agama.

Dalam momen Waisak ini, kita semua seyogianya semakin menyadari bahwa kita tidak bisa mengubah orang lain untuk tidak berbuat usil terhadap kita. Namun, sejatinya kita tetap berbuat baik terhadap orang lain, menjaga perasaan, pikiran, ucapan, dan tindakan kita yang senantiasa berdasarkan pada kesadaran darma karena itu semua ada di dalam kendali diri kita sendiri.

Seperti contoh teladan yang diwujudkan Buddha Sakyamuni. Ia mendapatkan berbagai macam fitnah, kecemburuan, dan tindak kekerasan oleh Devadatta. Namun, Buddha Sakyamuni tidak membalasnya dengan kekerasan, tetapi menerimanya sebagai hikmah baik, membalasnya dengan sebuah kesadaran bahwa Devadatta juga memiliki kesadaran Buddha. Ketika ia sadar, ia pun akan menjadi manusia yang baik.

 

Menerima perbedaan

Oleh karena itu, dalam hal ini, paradigma yang dibangun tidak cukup hanya sekadar toleransi karena toleransi masih menyisakan jarak dan kadar toleransi bisa berkurang. Ketika batas toleransi itu dilampaui, akan menimbulkan kesakitan, kemarahan. Jika ingin membangun suasana kehidupan yang rukun, damai, dan bersatu, kita perlu memiliki paradigma akseptasi, menerima seutuhnya perbedaan sebagai sesama makhluk hidup, umat manusia, saudara sebangsa yang dapat menerima kegembiraan maupun penderitaan umat beragama sebagai bagian diri kita.

Semua agama muncul untuk menyelesaikan masalah (perdamaian) untuk kemanusiaan. Oleh karena itu, jangan mengatasnamakan agama untuk membuat keonaran, memprovokasi sekelompok orang demi kepentingan pribadi, dan kelompok yang merusak perdamaian. Dalil-dalil agama memang mampu menggerakkan hati dan pikiran seseorang. Hal ini haruslah digunakan untuk hal-hal yang baik dan bermanfaat, menjadi sarana introspeksi, bukan memanipulasi ataupun memprovokasi. Karena itu, kita bisa saling meluhurkan sebagai sesama manusia, apa pun agamanya.

Sudah terbukti selama ribuan tahun dan sampai saat ini kandungan kebajikan dari ajaran-ajaran agama masih relevan dan efektif dalam mengubah paradigma seseorang menjadi lebih baik (jika benar-benar dihayati, dipahami secara utuh). Ajaran agama, sampai kapan pun akan tetap menjadi tuntunan kebajikan karena sejatinya agama untuk manusia, bukan manusia untuk agama.

Pandemi covid-19 memberi pelajaran sangat berharga bagi kita bahwa ketahanan kesehatan dan kesiapsiagaan dunia terhadap pandemi ternyata tidak cukup kuat, jutaan orang kehilangan nyawanya. Oleh karena itu, kita harus bekerja sama membangun arsitektur kesehatan dan kesiapsiagaan dunia yang lebih kuat.

Dalam perspektif agama Buddha Niciren Syosyu, perubahan harus dimulai dari diri sendiri (sang Buddha telah membuktikan dengan keteladanan dirinya yang berhasil mencapai kesadaran Buddha, mampu membuat orang-orang di sekitarnya turut menjadi sadar). Ibarat badan (diri kita) dan bayangan (lingkungan sekitar), jika bayangan bengkok (lingkungan tidak baik), yang harus diluruskan ialah badannya (kita). Ketika badannya diluruskan, bayangan pun akan lurus.

Merujuk prinsip badan dan bayangan itu, kita perlu semakin menyadari bahwa permasalahan dan tantangan yang ada merupakan cerminan dari diri umat manusia (termasuk kita) yang masih diliputi tiga akar keburukan/racun: keserakahan (loba), kemarahan (dosa), dan kebodohan (moha). Hal itu terefleksi sebagai tiga bencana (peperangan, penyakit menular, dan kelaparan) dan tujuh musibah (kematian karena wabah penyakit, serangan negara asing, perang saudara, kelainan peredaran bintang, gerhana matahari dan bulan, hujan angin besar, serta kemarau panjang yang mengakibatkan kebakaran).

 

Kembali kepada darma

Doa yang tulus dan sungguh-sungguh, perombakan sifat jiwa yang berdasarkan kesadaran darma, serta pelaksanaannya dalam kehidupan sehari-hari merupakan obat paling mujarab untuk mengatasi jiwa manusia yang diliputi tiga akar keburukan itu.

Di dalam momen Waisak ini, marilah seluruh umat Buddha mengembalikan sradha (hati kepercayaan/keyakinan) ke ajaran Buddha yang sebenarnya yang tepat waktu dan tepat guna. Mengembalikan pikiran, perasaan, ucapan, dan tindakan kita kepada darma yang merupakan tuntunan dalam memunculkan kesadaran sejati/Buddha sebagai sumber energi untuk bisa senantiasa membuat sebab-sebab baik yang pasti akan menjadi akibat-akibat baik (karma baik). Karena itu, moderasi beragama benar-benar terwujud dalam kehidupan sehari-hari yang akan membawa perdamaian dan harmoni untuk Indonesia bahagia.


admin

Leave a Reply

Your email address will not be published.